Cerita Dewasa Pemuas Nafsu Tante Vera
DomoniQQ-Cerita dewasa- 3 hari kemarin aku melayani klienku yaitu tante Vera dia adalah wanita karir umurnya 40 tahun tubuhnya semok tetapi dia mempunyai hasrat sex yang tinggi samapi aku dibuat kwalahan olehnya, dia juga kagum dengan kehebatan saya dalam permainan di ranjang , dia ketagihan dia sempat bilang kepada aku jika aku tiba tiba horny kamu harus siap melayani, kataku siappp tante.
Saya
pasti akan menceritakan bagaimana hubungan saya dengan Ci Rini di lain waktu.
Sekarang saya akan melanjutkan kisah saya dengan Mbak Siti. Masih ingat kan?
Seminggu
sudah berlalu. Saya benar-benar merindukan Mbak Siti. Setiap hari kalau saya
lagi horny, saya cuma bisa beronani dengan membayangkan tubuh seksinya.
Entahlah, semenjak usia 12 tahun saya sudah sering beronani, dan yang menjadi
fantasi seks saya pasti wanita-wanita dewasa.
Saya
lebih bergairah bila mengkhayalkan mereka. Dan khayalan itu pertama kali
terwujud dengan Mbak Siti. Saya memang memiliki beberapa pacar, tapi tak ada
gairah sedikitpun untuk ngeseks dengan mereka. Mungkin saya mengidap penyakit
sindroum complex, kalau tidak salah.
Hari
itu sekitar pukul 6 sore. Aku sedang di toko, sepi sekali, benar-benar BT.
Tiba-tiba HPku berdering.
“Hallo
sayang, apa kabar? Kangen ga sama Mbak? Kamu lagi ngapain?”, suara merdu yang
sedang kutunggu-tunggu.
“Ah
enggak kangen kok. Biasa aja tuh. Mbak lagi dimana?”
“Ih
kamu jahat deh. Mbak lagi di Jakarta, di kafe XX. Mbak juga enggak kangen sama
kamu, Mbak cuma kangen sama burung kamu. Apa burung kamu gak rindu sama
sarangnya? Kesini yah? Mbak tunggu!”
“Ok deh Mbak, nanti saya suruh burung saya terbang kesana.”
“Ok deh Mbak, nanti saya suruh burung saya terbang kesana.”
Mbak
Siti hanya tertawa. Aku pun segera menutup toko lalu bergegas mandi. Aku
mambayangkan betapa indahnya malam nanti. Aku akan bertempur habis-habisan
dengan Mbak Siti.
Membayangkannya saja sudah nikmat, apalagi mencicipinya.
Membayangkannya saja sudah nikmat, apalagi mencicipinya.
Sebelum
jam 8 malam aku telah sampai di kafe itu. Setelah masuk ke dalam dari sudut
kafe ada wanita sedang melambaikan tangan. Itulah Mbak Siti, wanita yang
kurindukan selama ini. Dia tidak sendiri, disebelahnya ada seorang wanita lagi.
Dari raut wajahnya terlihat kalau dia sudah berumur, mungkin hampir 50 tahun.
Namun begitu ia terlihat begitu anggun dan berwibawa dengan menggunakan kemeja
biru dan rok panjang.
Mbak
Siti memperkenalkanku padanya. Ibu Lis namanya. Beliau adalah direktur utama di
tempat Mbak Siti bekerja. Pantas saja kalau Mbak Siti terlihat begitu hormat
padanya. Setelah lama berbincang-bincang, tiba-tiba saja Mbak Siti pamit pergi.
“Fen,
Mbak pergi dulu ya, ada urusan mendadak, kamu tolong temani Ibu Lisa ya!” Aku
hanya menganggukkan kepala.
Setelah
mencium keningku ia langsung pergi. Aku hanya terdiam dan menunduk karena
kulihat Ibu Lisa memperhatikanku dengan serius.
“Hey,
kok diam aja. Jangan takut donk, memangnya Ibu mau menerkam kamu. Kita jalan
yuk, cari udara segar.”
Aku
hanya tertawa kecil ketika ia mencubit pipiku kemudian menggandeng tanganku keluar
dari kafe itu. Selama dua jam kami keliling kota. Ibu Lisa menceritakan
pengalaman hidupnya, dari bisnis sampai keluarga.
Kini
ia telah menjanda dengan dua orang anak yang tinggal di luar negeri dan sudah
menikah. Menurutnya semua telah diraihnya, kecuali satu, belaian hangat dan
kasih sayang dari seorang pria. Suaminya telah meniggalkannya lima tahun yang
lalu.
Ah
seperti yang kuduga akhirnya ia megutarakan maksudnya. Ia ingin malam ini aku
mengobati kesepiannya, memuaskan hasrat biologis yang selama ini tersimpan. Ia
akan memberikan apa yang kuminta asal aku dapat memuaskannya.
Aku
hanya mengganggukkan kepala, tak kusangka wanita yang sebelumnya terlihat
begitu tegar, angkuh, kini menangis di depanku.
Tepat
jam 12 kami check in di sebuah hotel mewah di kawasan kota. Begitu sampai di
kamar, tak kusangka bagaikan macan kelaparan ia langsung menerkamku,
menjatuhkanku diatas kasur. Dengan kasar ia melepas pakaianku, membuka
celanaku, dan langsung memakan kontolku.
“Ah..
ohh pelan-pelan Bu, sakit nih, ohh.. hisap Bu, hisap!” candusex
“Maaf
Fen, ahh Ibu sudah lama gak ngemut barang yang enak ini. Kontolmu gede, panjang
lagi, ohh beruntung sekali istri kamu nanti. Ehmm enak Fen.”
Ibu
Lis memang hebat memanjakan kontolku. Baru sepuluh menit, sudah kurasakan lahar
panas akan keluar. Kutekan kepalanya kedalam ketika pejuku keluar dan langsung
masuk ke dalam mulutnya. Ia meminum seluruhnya, lalu membersihkan kontolku
dengan lidahnya.
“Ahh
enak Fen. Peju kamu nikmat sekali. Nanti kasih Ibu lagi ya?”
Kemudian
ia berdiri dan melepaskan seluruh pakaiannya. Wow hebat juga, walaupun usianya
hampir setengah abad, terlihat payudaranya yang besar hanya sedikit mengendur,
kulit tubuhnya pun masih kencang, bulu-bulu kemaluannya juga terlihat rapi.
Sepertinya
ia merawat tubuhnya dengan baik. Aku langsung menarik tangannya, kurebahkan ia,
kuciumi senti demi senti tubuhnya. Kulumat vaginanya, kusedot, hisap, kadang
kumainkan lidahku di itilnya.
Sementara
kedua tanganku memijat halus payudaranya. Belum sampai lima menit, ia menekan-nekan
kepalaku, ia hendak orgasme, kutekan pangkal pahanya keras-keras. Ahh keluarlah
cairan kenikmatannya, ia mengerang keras, kemudian kusedot habis cairan itu dan
kubersihkan memeknya dengan lidahku.
Aku
kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi. Entah kenapa, diruangan ber-AC itu
badanku terasa panas, mugkin karena lelah berkeliling kota tadi. Aku pun mandi,
kupikir sekalian memberi waktu bagi Ibu Lis untuk istirahat sebentar.
Begitu
keluar dari kamar mandi, kulihat tubuh mulus terpampang di depanku. Gairahku
bangkit lagi, kudekati ia. Alamak, ternyata ia sudah tertidur, mungkin ia
benar-benar lelah, tak tega hatiku untuk membangunkannya. Aku berpikir keras,
gairahku makin memuncak. Akhirnya aku teringat Mbak Siti, aku menelponnya dan
kuceritakan kejadiannya.
Ternyata
ia sedang berada di sebuah apartemen di Jl.Gotot Subroto. Aku segera berpakaian
dan meluncur kesana. Setengah jam kemudian aku sudah sampai disana. Aku
benar-benar sudah tak tahan, ingin segera kulumat habis setiap jengkal tubuh
mulus Mbak Siti.
Kuketuk
perlahan kamar nomor 634. Terdengar langkah orang mendekat. Pintu pun dibuka,
di depanku berdiri seorang wanita bertubuh gemuk berumur kira-kira 40 tahun. Ia
hanya mengenakan daster tipis, dibalik dasternya itu terlihat kedua
payudaranya, sangat besar tapi sudah kendur.
Aku
dipersilahkan masuk. Ketika berjalan kedua belah pantatnya juga terlihat jelas,
besar sekali.Sampai di dalam kulihat seorang wanita lagi kira-kira berumur sama
sedang tidur telanjang di kasur.Ya ampun, ia tengah memainkan memeknya dengan
tangan kanannya. Kedua jarinya disodok-sodok ke dalam lubang memeknya.
Sementara tangan kirinya memeras kencang payudaranya sendiri.
Aku
begitu terkesima melihatnya. Tiba-tiba saja wanita bertubuh gemuk yang tadi
langsung mendorongku dan menjatuhkanku ke atas kasur. Ternyata ia sudah
telanjang bulat. Sedikit ngeri dan takut, tapi juga lucu melihat tubuh gemuk
telanjang di depanku. Lucu sekali, kedua pahanya begitu lebar, sampai-sampai
memeknya tidak terlihat.
Wanita
gemuk itu menindihku. Kemudian membuka paksa baju dan celanaku. Setelah
telanjang, dengan rakus ia menciumi seluruh tubuhku. Ia memijat halus kontolku.
Ah nikmat sekali pijatannya. Dengan cepat kontolku menegang keras. Ia pun
langsung menelan habis, terkadang mengulum, menyedot, dan mengocok-ngocok
kontolku.
Sepuluh
menit kemudian ia bangkit dan mengangkangiku. Perlahan-lahan kontolku dibimbing
masuk ke memeknya. Setelah masuk, ia diam saja, hanya matanya terpejam
menikmati sesuatu barang yang besar memenuhi lubang kenikmatannya. Kemudian ia
mulai memainkan pantatnya, turun naik perlahan, terkadang pinggulnya
digoyang-goyang.
Tiba-tiba
saja wanita kurus disampingku bangkit, dan langsung mengangkangiku diatas.
Memeknya tepat berada di depan mukaku. Ia menunjuk kearah memeknya. Tanpa
dikomando, aku langsung melumat memek yang ternyata sudah basah itu. Kusedot
habis, sementara kedua tanganku meremas-remas payudaranya.
Badanku
terasa remuk ditindih oleh dua orang wanita. Beberapa menit kemudian wanita
gemuk itu mengerang hebat, kedua tangannya mencengkram keras badanku. Ia
mendapatkan orgasmenya yang pertama. Bersamaan dengan itu laharku juga meletus
di rongga rahimnya.
Ah
nikmat sekali. Ini yang kutunggu-tunggu karena tadi sempat tertunda. Mulutku
masih memainkan memek wanita kurus diatasku. Semenit kemudian ia juga mengerang
keras sambil menjambak rambutku. Keluarlah cairan kenitmatannya, dan langsung
kusedot habis, kubersihkan memeknya dengan lidahku. Kemudian ia berbaring
disebelah kiriku, sementara wanita gemuk itu berbaring di sebelah kananku.
Kemudian
aku bangkit dan berjalan menuju dapur. Haus sekali rasanya setelah bertempur
tadi. Yah baru pertama kali aku melawan dua wanita sekaligus. Aku duduk di
kursi dapur, meminum segelas jus jeruk dingin.
Lama
aku terdiam membayangkan kejadian tadi. Sampai tiba-tiba gairahku bangkit lagi.
Aku segera bergegas kembali ke ranjang. Ternyata kedua wanita itu sudah
tertidur pulas. Aku bingung harus memilih yang mana.
Akhirnya
kuhampiri wanita yang bertubuh kurus karena belum kurasakan kehangatan memeknya
dan ia pun belum mencoba kehebatan kontolku. Kusibakkan kedua pahanya. Terlihat
memeknya sudah kering, kubasahi dengan air liurku.
Perlahan
tapi pasti, kuhujamkan batang kejantananku. Ia terbangun dan merintih, kemudian
hanya tersenyum kecil dan memejamkan matanya lagi. Kubiarkan sebentar kontolku
di dalam. Aku ingin merasakan kehangatan memeknya. Perlahan-lahan
kumaju-mundurkan pantatku, sambil sesekali menggoyangkan pinggulku.
“Ahh..
ohh. Terus Mas, enak Mas, ohh.. ohh. nikmat sekali. Ayo Mas, sekalian cobain
susuku donk!”
Sesuai perintahnya, segera kusedot payudara kirinya, sementara tanganku memelintir puting payudara kanannya. Ia mengerang kecil ketika kugigit putingnya.
Sesuai perintahnya, segera kusedot payudara kirinya, sementara tanganku memelintir puting payudara kanannya. Ia mengerang kecil ketika kugigit putingnya.
Pinggulku
tetap menggenjotnya. Semakin lama semakin kupercepat ketika aku tahu ia akan
orgasme. Bibir memeknya terasa menjepit keras kontolku ketika ia orgasme.
Kuperlambat genjotanku, kemudian kucabut kontolku. Ia berbaring lemas.
Kulirik
wanita gemuk disampingku. Ternyata ia telah terbangun dan sedang memainkan
memeknya dengan tangannya. Rupanya dari tadi ia melihat permainanku dengan
wanita yang kurus. Ia menatapku dan menunjuk-nunjuk memeknya.
“Ayo
Mas, masukin dong, aku sudah gak tahan nich. Memekku sudah gatel lagi kepengin
ngerasain kontol Mas yang gede.”
“Sabar
sayang, enak yah kontolku ini, kepingin lagi yah?”
“Ayo
dong Mas, jangan bercanda ah.”
Kontolku
masih meneras dan tegang. Segera kuhujamkan ke liang kenikmatan wanita gemuk
itu. Ternyata ia memang lebih pintar dari wanita yang kurus. Sambil kugenjot,
ia memainkan sendiri pinggulnya memutar berlawanan dengan pinggulku.
Tiba-tiba
ia mengangkat kedua kakinya dan disenderkan di pundakku. Aku pun duduk
mengangkang, namun kontolku tetap menancap di lubang memeknya. Ah pintar sekali
ia memilih gaya. Secara perlahan aku mulai menggenjot lagi.
Wanita
yang kurus tiba-tiba bangkit dan langsung melumat payudara wanita yang gemuk.
Pandai juga ia memainkan payudara itu satu persatu.
Aku
senang karena ada yang membantuku agar wanita gemuk ini cepat mencapai klimaks.
Yah saat itu memang kurasakan laharku akan keluar, sementara wanita gemuk ini
masih asyik menggoyang-goyang pinggulnya.
Kemudian
kepalaku dicengkram keras oleh kedua kaki wanita yang gemuk. Ah rupanya ia akan
orgasme. Kedua tangannya menjambak keras rambut wanita yang kurus.
“Ayo
Mas, goyang yang kencang, ayo cepat, ohh.. ohh.. aahh”
“SAya
juga sayang, dikeluarin di dalam aja yah, biar lebih enak.”
“Tersserraahh
kammuu.. ahh.”
Ia
mengerang hebat. Sampai-sampai wanita yang kurus berteriak juga menahan sakit
sambil memegang rambutnya yang dijambak. Kepalaku juga sakit oleh jepitan kedua
kakinya.
Aku
segera mencabut kontolku. Laharku belum keluar. Segera kutarik kepala wanita
yang bertubuh kurus. Kupaksa ia untuk mengoralku. Ternyata pintar juga ia
memakan kontolku. Semenit kemudian meletuslah laharku di dalam mulutnya. Ia
langsung meminum habis sampai bersih. Aku langsung terlentang lemas sampai
akhirnya tertidur.
Aku
baru terbangun kira-kira jam 8 pagi. Benar-benar lemas badanku ini, serasa mau
copot tulang-tulangku. Aku segera berpakaian dan menuju dapur karena kudengar
suara kedua wanita itu sedang bercakap-cakap.
“Selamat
pagi sayang, cape yah. Ini Tante sudah buatkan susu dan nasi goreng untuk
kamu.”, Wanita yang gemuk ini menggandeng tanganku untuk duduk.
“Perkenalkan
nama saya Erna, panggil saja Tante Erna. Nah, yang ini Tante Dian. Kami berdua
adalah teman bisnisnya Siti.”
Ya
ampun, aku baru teringat kalau tujuanku kesini unuk bertemu dengan Mbak Siti.
Karena nafsuku yang tertahan semalam aku jadi lupa.
Kami
pun sarapan bersama. Tante Erna menceritakan kalau mereka suka berjudi, siapa
yang menang harus menghadiahkan seorang gigolo sebagai pembayaran pajak kepada
yang kalah. Mungkin maksudnya agar yang kalah tidak terlalu emosi karena
kekalahannya.
Dan
semalam Mbak Siti telah menang besar, dan menjadikanku sebagai pajaknya. Selain
mereka bertiga sebenarnya masih ada dua orang lagi, namun tidak bisa datang.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika kedua orang itu datang, berarti aku
harus bertempur habis-habisan dengan empat orang. Wah mana tahan.
Tepat
pukul 10 aku pamit pulang. Mereka mengucapkan banyak terima kasih. Mereka
benar-benar puas dengan pelayananku semalam. Mereka memberiku uang dalam sebuah
amplop. Aku menolaknya, karena dipaksa aku menerimanya juga.
Ingin
rasanya cepat tiba di rumah, badanku benar-benar remuk, aku ingin segera
dipijat oleh Bik Inah pembantuku. Di perjalanan kubuka amplop itu. Wow isinya
satu juta rupiah. Kupikir tak sia-sia perjuanganku semalam

Post a Comment