Cerita Menjadi Tour Guide Yang Menguntungkan
![]() |
| Cerita Menjadi Tour Guide Yang Menguntungkan |
DominoQQ-Cerita Seks-Bermula ketika saya mengikuti test penerimaan karyawan di sebuah perusahaan di kota Mataram. Pada hari Sabtu jam 10.20 yang telah ditentukan, saya akan diinterview pada session terakhir agar lolos.
“Saudara Dimas, silakan” panggil resepsionis cewek itu mengajak
saya ke sebuah ruangan
Di ruangan itu sudah duduk
seorang wanita yang cantik, seperti artis mandarin yang ternyata adalah seorang
Manager HRD Memakai setelan hem, dalamnya berwarna putih dan jasnya merah serta
dipadu rok mini merah, kulitnya putih bersih karena masih ada keturunan
tionghoa Saya perkirakan umurnya masih muda sekitar 26 tahunan
“Permisi
Bu ”
“Selamat
pagi, silakan duduk” sapanya ramah mempersilakan saya duduk di sofa yang cuma
dibatasi dengan meja kecil hingga kami saling berhadapan
“Oh
ya, kenalkan saya Rani”
“Dimas Bu” jawab saya sambil bersalaman dengannya
“Panggil Mbak aja ya”
“Iya Mbak”
“Dimas Bu” jawab saya sambil bersalaman dengannya
“Panggil Mbak aja ya”
“Iya Mbak”
Setelah
acara tanya jawab mengenai bidang yang saya lamar dan bagaimana tanggapan dari
perusahaan, akhirnya sampailah pada pertanyaan yang terakhir
“Dulu
apa pekerjaannya, Dimas?” tanya Rani sambil menopangkan sebelah kakinya yang
putih itu
Duh
cantiknya cewek ini, udah putih, cantik lagi seperti artis Mandarin di Hongkong
itu, pikirku Kuperkirakan tingginya 170 cm/56 kg dengan pinggang yang langsing,
pokoknya seksi deh
“Sampai
sekarang sih masih sebagai free guide” jawab saya jujur
“Maksudnya ?”
“Pemandu tour lepasan untuk turis domestik, begitu”
“Oh gitu, sebetulnya perusahaan ini membutuhkan orang yang berkualitas tinggi”
“Jadi maaf ya, Dimas belum bisa memenuhi syarat yang ditentukan perusahaan”
“Nggak apa-apa kok Mbak, saya bisa menerimanya”
“Oh ya, saya cuma sebentar di Lombok ini, kira-kira dua mingguan”
“Maksud Mbak ?” tanya saya nggak ngerti
“Kalo saya minta Dimas menjadi tour guide saya selama dua minggu, berapa biayanya?”
“Maksudnya ?”
“Pemandu tour lepasan untuk turis domestik, begitu”
“Oh gitu, sebetulnya perusahaan ini membutuhkan orang yang berkualitas tinggi”
“Jadi maaf ya, Dimas belum bisa memenuhi syarat yang ditentukan perusahaan”
“Nggak apa-apa kok Mbak, saya bisa menerimanya”
“Oh ya, saya cuma sebentar di Lombok ini, kira-kira dua mingguan”
“Maksud Mbak ?” tanya saya nggak ngerti
“Kalo saya minta Dimas menjadi tour guide saya selama dua minggu, berapa biayanya?”
“Terserah
Mbak aja, pokoknya ditanggung puas deh jalan-jalan ke pulau Lombok” jawab saya
senang, meskipun tidak dapat pekerjaan tapi ada order nih, cantik lagi
“Besok
ya, jam 09 00 di hotel Senggigi Beach, saya tunggu”
“Ya Mbak, pasti saya datang”
“Permisi Mbak”
“Ya, silakan” jawab Mbak Rani mengantar saya keluar ruangan
“Ya Mbak, pasti saya datang”
“Permisi Mbak”
“Ya, silakan” jawab Mbak Rani mengantar saya keluar ruangan
Tepat
jam 09 20 esoknya, saya sampai di hotel Senggigi Beach tempat Mbak Rani
menginap
“Selamat
pagi Mbak, kamar Mbak Rani yang mana ya?” tanya saya pada recepsionis hotel itu
“Oh, Pak Dimas ya, sudah ditunggu di lobi hotel sama Ibu Rani”
“Terima kasih Mbak”
“Sama-sama”
“Oh, Pak Dimas ya, sudah ditunggu di lobi hotel sama Ibu Rani”
“Terima kasih Mbak”
“Sama-sama”
Ternyata Mbak Rani sudah
menunggu di lobi dengan kaos ketat berwarna biru hingga samar-samar kelihatan
payudaranya yang masih terbungkus BH menonjol di balik kaos gaulnya dan dipadu
celana panjang jins, kelihatannya jauh sekali dari formalitas
“Maaf
Mbak, kelamaan nunggu ya?”
“Nggak apa-apa kok, tapi panggil Rani aja ya”
“Ya Mbak E Eh Rani”
“Dimas, bisa nyopir khan?”
“Bisa emangnya kenapa”
“Tadi saya pinjam mobil kantor untuk jalan-jalan”
“Oh, bisa kok Mbak, jadi kita nggak perlu pake taksi”
“ Rani pengin liat tempat gerabah dulu ya”
“Ya, ayo kita berangkat sekarang” ajak saya sambil menggandeng tangannya, rupanya Rani tidak keberatan saya gandeng tanggannya yang putih mulus itu
“Nggak apa-apa kok, tapi panggil Rani aja ya”
“Ya Mbak E Eh Rani”
“Dimas, bisa nyopir khan?”
“Bisa emangnya kenapa”
“Tadi saya pinjam mobil kantor untuk jalan-jalan”
“Oh, bisa kok Mbak, jadi kita nggak perlu pake taksi”
“ Rani pengin liat tempat gerabah dulu ya”
“Ya, ayo kita berangkat sekarang” ajak saya sambil menggandeng tangannya, rupanya Rani tidak keberatan saya gandeng tanggannya yang putih mulus itu
Pada
jam 09 40 kami berangkat ke desa Banyumulek, tempat gerabah khas Lombok yang
luarnya memakai anyaman rotan itu, jaraknya di luar kota Mataram Setelah
sampai, Rani membeli beberapa gerabah hingga jam 12 10 dan kami kembali lagi ke
Mataram untuk makan siang
“Terus
mau kemana lagi Rani?” tanya saya padanya dalam mobil yang akan menuju hotel
“Temenin saya berenang yuk”
“Ayo, tapi saya nggak bawa baju renang nich”
“Ah, gampang nanti saya beliin, gimana?”
“OK boss”
“Temenin saya berenang yuk”
“Ayo, tapi saya nggak bawa baju renang nich”
“Ah, gampang nanti saya beliin, gimana?”
“OK boss”
Maka
sampailah kami di hotel Senggigi Beach, ternyata kolam renang tidak begitu
ramai dengan orang, cuma ada beberapa bule sedang berjemur
“Tunggu
di sini ya Ndi, saya mau ganti baju dulu” celoteh Rani sambil berlalu ke ruang
ganti
Setelah
beberapa saat, wow Rani sudah berganti dengan baju renang yang seksi sekali,
berwarna putih selaras dengan kulitnya dan payudaranya menonjol dari balik baju
renangnya
“Ayo
Ndi, kok bengong aja” katanya mengagetkan saya dan kami pun berenang di dalam
kolam yang cukup besar itu
Kami
berenang sampai jam 17 10 sore dan lalu Rani mengajak saya mengakhiri dulu
acara renangnya
“Sampai
besok ya Ndi”
“Ya, sampai besok Rani” jawab saya sambil menelan ludah karena membayangkan betapa putih dan seksinya Rani memakai pakaian renangnya itu
“Ya, sampai besok Rani” jawab saya sambil menelan ludah karena membayangkan betapa putih dan seksinya Rani memakai pakaian renangnya itu
Beruntung sekali jika
saya bisa memeluk atau bahkan making love dengannya Ah tapi itu cuma
angan-angan saya saja untuk making love dengannya Hari berikutnya saya antar Rani
ke pemandian Suranadi, tempat air awet muda di Narmada, dan beberapa tempat
wisata lainnya
“Kita
ke mall yuk” ajak Rani sambil menggandeng tangan saya mesra bagai sepasang
kekasih saja
“Ada
acara apa nich ke mall?” tanya saya sambil melirik Rani yang duduk dengan
santai dan seenaknya, bahkan kadang-kadang rok mininya memperlihatkan hampir
separuh lebih pahanya yang putih mulus hingga si boy jadi tidak tenang, kapan
ya bisa bergesekan dengannya, pasti sedap, pikirku
“Saya
mau beli pakaian atas nich” jawabnya
Selama
sepuluh hari berlalu, kami sudah menjadi akrab sekali Siang itu Rani mengenakan
kaos ketat putih bergambar panda yang dipadu dengan rok jins mini berwarna biru
dengan sabuknya yang besar, saya tidak tahu apakah ini model baju gaul jaman
sekarang atau kreasi Rani sendiri
Mall
itu sungguh ramai pada saat hari Minggu, hingga saya bisa menggandeng pinggang Rani
yang ramping itu dan wangi tubuhnya sungguh harum sekali Rupanya Rani tidak
keberatan saya peluk pinggangnya Ini baru lumayan, pelan-pelan ada kesempatan
nih.
“Kita
cari baju yuk” ajaknya ke toko baju dalam mall tersebut
“Okey ”
“Ini bagus nggak Ndi?” tanyanya sambil memperlihatkan hem merah
“Bagus juga kok Rani, cobain aja” jawabku
“Iya deh” jawabnya sambil menuju ruang ganti
“Okey ”
“Ini bagus nggak Ndi?” tanyanya sambil memperlihatkan hem merah
“Bagus juga kok Rani, cobain aja” jawabku
“Iya deh” jawabnya sambil menuju ruang ganti
Tentu
saja saya mengikutinya dan membantu menutup kain tempat mencoba baju itu, namun
yang membuat saya berdebar-debar, ternyata ada celah sedikit untuk mengintip
ruang ganti itu, mungkin saja Rani tidak tahu atau pura-pura tidak tahu
Pertama-tama
Rani membuka kaos ketat warna putihnya hingga sekarang tampak kelihatan BH
warna kuningnya yang sungguh indah, membuat si boy langsung berdiri, kemudian
ia mencoba hem merah itu dan ternyata pas sekali dengan bentuk tubuh Rani
Setelah cocok dan membayar harganya, saya mengajak Rani mencoba naik cidomo
(semacam dokar yang ditarik oleh kuda), sedangkan mobil masih diparkir di Mall
supaya aman
“Gimana
Rani, rasanya naik cidomo?” tanya saya sambil memperhatikan rok mininya yang tadi
agak tersingkap pada saat naik cidomo hingga kelihatan sedikit celana dalamnya
yang berwarna putih polos Si boy langsung berdiri hingga celana jins saya jadi
sesak
“Lucu
ya, naik cidomo begini”
“Ya, ini namanya kendaraan tradisional khas daerah sini”
“Oh, gitu ”
“Ya, ini namanya kendaraan tradisional khas daerah sini”
“Oh, gitu ”
Setelah
bolak balik naik cidomo, kami kembali ke hotel supaya Rani bisa beristirahat
“Ndi,
kamu tadi ngintip saya ya?” tanya Rani tiba-tiba sambil menatap saya lekat
“E Eh Ya Nggak sengaja kok” kata saya tergagap-gagap karena kaget bahwa Rani tahu tadi saya memperhatikan wilayah pribadinya Saya pasrah saja kalau akan dimaki atau bahkan diusir
“Mmh Gitu ya”
“Maaf ya Rani, saya nggak sengaja kok, kalo Rani nggak suka saya bisa pergi sekarang kok” jawab saya sambil akan meninggalkannya
“Tunggu Ndi, sebetulnya Rani nggak apa-apa kok”
“Terima kasih kalo begitu” jawab saya yang tidak jadi meninggalkannya, bahkan sempat duduk di hadapannya kembali
“Gimana badannya Rani?” tanyanya lagi dengan antusias
“E Eh Ya Nggak sengaja kok” kata saya tergagap-gagap karena kaget bahwa Rani tahu tadi saya memperhatikan wilayah pribadinya Saya pasrah saja kalau akan dimaki atau bahkan diusir
“Mmh Gitu ya”
“Maaf ya Rani, saya nggak sengaja kok, kalo Rani nggak suka saya bisa pergi sekarang kok” jawab saya sambil akan meninggalkannya
“Tunggu Ndi, sebetulnya Rani nggak apa-apa kok”
“Terima kasih kalo begitu” jawab saya yang tidak jadi meninggalkannya, bahkan sempat duduk di hadapannya kembali
“Gimana badannya Rani?” tanyanya lagi dengan antusias
Wah ada kesempatan lagi, saya
ingin berusaha membujuk Rani supaya mau making love dengan saya siang ini,
paling-paling ditolak atau diusir, itu resikonya
“Seksi
sekali” jawabku
“Yang bener” tanyanya memastikan
“Abis bodinya Rani seksi sich, rajin fitness ya”
“Iya, ini akibat latihan fitness”
“Ndi, masuk kamar yuk, soalnya panas di luar” ajak Rani tiba-tiba sambil menggandeng tangan saya masuk kamar kelas VIP itu, sungguh kamar yang bagus sekali
“Yang bener” tanyanya memastikan
“Abis bodinya Rani seksi sich, rajin fitness ya”
“Iya, ini akibat latihan fitness”
“Ndi, masuk kamar yuk, soalnya panas di luar” ajak Rani tiba-tiba sambil menggandeng tangan saya masuk kamar kelas VIP itu, sungguh kamar yang bagus sekali
Tiba-tiba
HP Rani berdering, dan Rani menjawab HP-nya sambil duduk di sofa Wow, sekarang
dengan jelas sekali kelihatan CD-nya yang berwarna putih karena duduknya yang
agak membuka kedua pahanya itu Sungguh pemandangan yang indah sekali Setelah Rani
menutup HP-nya, Rani menatap saya dengan pandangan yang lain
“Ada
apa Rani?” tanya saya sambil duduk di sampingnya
“Mungkin satu atau dua hari lagi saya kembali ke Jakarta” jawabnya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak saya
“Lho, kok cepat sekali” tanya saya sambil mengelus pundak kirinya pelan
“Biasa, panggilan dari bos besar ” jawabya sambil mengusap-ngusap paha kiri saya dengan mesra
“Gimana kalo sekarang, Dimas kasih hadiah”
“Hadiah apa, pasti asyik nih?” celoteh Rani penasaran sambil menatap saya serius
“Gimana, kalo hadiahnya berupa ciuman”
“Hush, ngawur kamu, khan udah kukasih liat” celotehnya sambil nyengir
“Lho, ini khan ada rasanya” jawab saya nggak mau kalah sambil tangan kanan saya mengusap-usap pipinya yang putih mulus
“Geli tau ” tolaknya manja
“Lama-lama enak kok” rayu saya sambil mencium lehernya, bahkan menjilatinya sedikit demi sedikit supaya Rani merasakan rangsangan
“Jang An Ndi Kamu Nakal ” sentak Rani sambil mendorong tubuh saya, namun dorongannya malah membuat kami berdua jatuh ke sofa dengan posisi saya menindih Rani
“Mungkin satu atau dua hari lagi saya kembali ke Jakarta” jawabnya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak saya
“Lho, kok cepat sekali” tanya saya sambil mengelus pundak kirinya pelan
“Biasa, panggilan dari bos besar ” jawabya sambil mengusap-ngusap paha kiri saya dengan mesra
“Gimana kalo sekarang, Dimas kasih hadiah”
“Hadiah apa, pasti asyik nih?” celoteh Rani penasaran sambil menatap saya serius
“Gimana, kalo hadiahnya berupa ciuman”
“Hush, ngawur kamu, khan udah kukasih liat” celotehnya sambil nyengir
“Lho, ini khan ada rasanya” jawab saya nggak mau kalah sambil tangan kanan saya mengusap-usap pipinya yang putih mulus
“Geli tau ” tolaknya manja
“Lama-lama enak kok” rayu saya sambil mencium lehernya, bahkan menjilatinya sedikit demi sedikit supaya Rani merasakan rangsangan
“Jang An Ndi Kamu Nakal ” sentak Rani sambil mendorong tubuh saya, namun dorongannya malah membuat kami berdua jatuh ke sofa dengan posisi saya menindih Rani
Kesempatan
itu tak saya sia-siakan karena langsung saja saya cium bibirnya yang merah
basah Beberapa saat Rani masih memberontak lemah dan pergumulan itu semakin
membuat tangan kanan saya menekan-nekan payudaranya yang masih terbungkus kaos
dan tangan kiri saya memegang kepalanya
“Mmh
” guman Rani karena mulutnya penuh oleh lidah saya yang berusaha membelitnya
dan kembali ke lehernya yang putih bersih, terus menjilatinya dengan gemas
“Sst Jann Ngan Sst ” celotehan dan sedikit rintihan Rani membuat saya tahu bawah Rani sekarang agak terangsang, dan perlawanannya sudah mulai semakin lemah
“Aduh Sst Ndi Pelan-pelan ” rintihnya sambil memegang tangan saya yang sedang meremas payudaranya
“Sst Jann Ngan Sst ” celotehan dan sedikit rintihan Rani membuat saya tahu bawah Rani sekarang agak terangsang, dan perlawanannya sudah mulai semakin lemah
“Aduh Sst Ndi Pelan-pelan ” rintihnya sambil memegang tangan saya yang sedang meremas payudaranya
Tangan
saya kembali bergerilya ke bawah punggungnya, dan berusaha melepas BH putihnya
hingga akhirnya lepas juga Dengan tiba-tiba BH itu disentak oleh Rani sendiri
hingga lepas ke lantai dan menarik kaosnya hingga ke atas Tampak jelas
payudaranya yang putih mulus dengan putingnya yang sudah berdiri kencang
“Ndi
Pakai kondom ya ?” pinta Rani sambil meraba-raba si boy dengan pelan
“Ya Rani ” jawab saya sambil membuka kondom yang sudah saya persiapkan dari tadi Rani sekarang sudah melepas kaos ketatnya hingga tinggal tersisa rok mini dan CD putihnya
“Ya Rani ” jawab saya sambil membuka kondom yang sudah saya persiapkan dari tadi Rani sekarang sudah melepas kaos ketatnya hingga tinggal tersisa rok mini dan CD putihnya
“Tunggu
Rani, biar saya saja yang nanti melepasnya” cegah saya saat melihatnya akan
membuka roknya, dan sekarang saya juga sudah membuka pakaian dan celana panjang
hingga bugil tinggal tersisa CD saja
“Ini
rahasia kita berdua lho” bisik Rani sambil menatap saya tajam dan saya lihat di
matanya ada keinginan yang terpendam dan sudah lama tak tersalurkan
“Oke
boss ” jawab saya sambil menciumnya dengan hangat dan disambut dengan gemas
oleh Rani, bahkan tangan saya dengan bebas meremas payudaranya yang kiri dan
kanan secara bergantian Kemudian ciuman saya turun ke payudaranya dan
melumatnya, menghisap bahkan menggigit putingnya hingga Rani merintih Itu saya
lakukan selama beberapa menit
“Sst
mmh terus sst ke bawah dikit sst ” pinta Rani sambil merintih tidak karuan
sambil mendorong kepala saya memintaku mencium dan menjilat pusarnya
Tangan
kanan saya juga aktif merayap pada pahanya dan semakin naik ke bawah hingga
masuk ke dalam roknya dan menyentuh vaginanya yang terbungkus CD Saya usap-usap
beberapa menit, kemudian tangan saya masukkan ke dalam CD putihnya dan
mengorek-ngorek lubang vaginanya hingga mengeluarkan cairan
“Sst
Ndi Aduh Geli Sst ” rintih Rani sambil berusaha membuka roknya Karena birahinya
sudah cukup tinggi, saya bantu untuk membuka rok beserta CD-nya hingga Rani
bugil sama sekali dan kelihatan bodinya yang padat dan montok
“Ayo
Ndi, buka juga dong, kok bengong ” pinta Rani tidak sabar sambil membuka CD
saya dan keluarlah si boy dengan tegaknya Rani sampai tercengang melihat si boy
yang agak bengkok ini
Bagaimana saya tidak bengong
melihat cewek cantik putih mulus dan seksi di hadapan saya dengan ukuran
payudara 34B ini Kami sama-sama bugil sekarang dan saya mengambil posisi agak
berjongkok untuk menghisap vaginanya yang ditumbuhi bulu halus dan tercukur
rapi, sedangkan Rani tiduran di sofa sambil membuka pahanya agak lebar
“Lho,
kok bengong” tanya Rani sambil membimbing kepalaku agar lebih dekat pada
vaginanya
“Ehh
” jawabku kaget tapi cuma sesaat karena berikutnya, vaginanya sudah saya jilat,
yang pada awalnya baru pada bibir vagina dan lama-kelamaan pada lubang
vaginanya mencari biji kacangnya serta menghisapnya lebih keras, bahkan
bulu-bulu halusnya juga ikut tersapu dengan jilatan dan hisapan saya
“Sst
Oh Yes Sst Mmh ” rintih Rani panjang sambil menggerakkan pinggulnya ke atas
sampai wajah saya terbenam semua dalam permukaan vaginanya Sementara tangan
kiri saya meremas-remas payudaranya silih berganti dengan dibantu tangan Rani
sendiri
“Sst
Teru Ss Ndi Sstss Mmh Sst Saya Kelu Ar Arkh ” jerit Rani karena dengan
tiba-tiba menjepit kepala saya dengan kedua pahanya
Rupanya
Rani telah mengalami orgasmenya yang pertama sejak making love karena saya tahu
begitu banyak cairannya yang keluar
“
Rani, mau nggak isep si boy?” tanya saya menghentikan gerakan menghisap cairan
vaginanya sambil menyodorkan si boy padanya
“Mmh Gimana ya, Rani belum pernah tuch” jawabnya gengsi karena mungkin Rani memang belum pernah menghisap kemaluan cowok
“Mmh Gimana ya, Rani belum pernah tuch” jawabnya gengsi karena mungkin Rani memang belum pernah menghisap kemaluan cowok
“Gini,
kuajarin, Rani lumat aja dan jilat dulu kepalanya ya” bujuk saya sambil
membimbing Rani duduk di sofa dan saya berdiri di hadapannya mengulurkan kontol
Tangan kanannya saya arahkan untuk memegang kontol saya dan memintanya mengocok
pelan
“Begini
ya ?” tanya Rani sambil mengocok kontol saya pelan dan mengurutnya hingga si
boy semakin keras saja
Rupanya
si Rani cepat belajarnya, dan saya semakin menikmati making love ini
“Bagus
Sekarang kulum Rani Sst Ya Gitu ” pinta saya lirih karena dengan cepatnya Rani
mengulum kepala kontol saya dan semakin lama semakin ke dalam hingga kontol
saya sampai masuk semua pada mulutnya, bahkan kadang-kadang tanpa diminta, Rani
menjilati buah zakar saya tanpa jijik dan kembali mengulum dan menghisap kontol
saya dengan irama yang kadang cepat kadang pelan
“Sst
Udah Rani Cukup ” pinta saya karena sudah tidak kuat menahan hisapan Rani yang
semakin lama se makin liar saja
“Ayo Ndi, Rani udah nggak tahan nich ” jawab Rani sambil memasangkan kondom pada kontol saya
“Ayo Ndi, Rani udah nggak tahan nich ” jawab Rani sambil memasangkan kondom pada kontol saya
Kemudian
Rani rebah telentang lagi di sofa dengan masih memegang kontolku yang sudah
memakai kondom dan mengarahkannya pada bibir vaginanya Kontol saya
gesek-gesekkan dulu pada bibir vaginanya untuk pemanasan hingga membuat Rani
mendesis kegelian
“Sst
Geli Ndi Udah masukin aja ”
“Auwh Sst Pelan Sst ” jerit Rani karena kepala kontol saya sudah masuk setengah pada vaginanya dan akhirnya masuk semua dalam vaginanya
“Auwh Sst Pelan Sst ” jerit Rani karena kepala kontol saya sudah masuk setengah pada vaginanya dan akhirnya masuk semua dalam vaginanya
“Sst
Aduh Mmh Sstss ” rintih Rani begitu kontol saya masuk semua dan menggoyangkan
pinggulnya dengan pelan Saya juga memompa kontol saya keluar masuk vaginanya
dengan perlahan dan semakin lama makin cepat
“Sst
Ndi Mmh Sst Ce Petan Sst ” pinta Rani pada saya karena saya memperlambat
sodokan kontol saya
“Mmh Nah Gitu Ter Us Ssttss ”
“Mmh Nah Gitu Ter Us Ssttss ”
“
Rani En Ak Nggak Sst ?” tanya saya tersengal-sengal karena Rani semakin aktif
memutar-mutar pinggulnya, bahkan tangan kanannya memegang pantat saya dan
menekannya dengan keras hingga kontol saya semakin dalam masuk ke vaginanya
“Sstss
Enak Ndi Sstt ” jawabnya lirih karena kedua tangan saya silih berganti meremas
payudaranya yang kadang-kadang saya isap puting susunya bergantian
“Sstssrtt
Udah Ndi Kelu Arin Samaan Sst ” pinta Rani yang rupanya sudah tidak tahan pada
sodokan kontol saya yang keluar masuk makin cepat diimbangi pula dengan
cepatnya goyangan pinggul Rani
“I
Ya Rani Sst ” desis saya lirih karena saya dengan kuat juga diputar-diputar
oleh pinggul Rani yang kencang itu hingga kontol saya rasanya senut-senut
dijepit oleh vaginanya
Beberapa
puluh menit saya dan Rani melakukan making love itu dengan bersemangat hingga
kepala Rani menoleh ke kiri-ke kanan tak beraturan Rupanya pertahanan saya
sudah akan bobol dan akhirnya saya memberi aba-aba pada Rani disertai dengan
pelukan Rani yang makin kencang
“Sst
Ayo Rani Sst ”
“Ssrtrrsst Arkhkk ” jerit Rani melengking sambil menjepit kontol saya dengan erat, disertai sodokan kontolku yang makin cepat dan akhirnya
“Ssrtrrsst Arkhkk ” jerit Rani melengking sambil menjepit kontol saya dengan erat, disertai sodokan kontolku yang makin cepat dan akhirnya
Crot
croot croot Tiga kali tembakan saya muntahkan dalam vaginanya tapi masih di
dalam kondom Rani akhirnya lunglai sambil memeluk saya dengan hangat
“Hahh
Lega rasanya ”
“Gimana rasanya Rani?” tanya saya sambil membelai rambutnya yang harum itu
“Enak gila” jawabnya sambil tersenyum
“Gimana rasanya Rani?” tanya saya sambil membelai rambutnya yang harum itu
“Enak gila” jawabnya sambil tersenyum
Selama
dua hari, sejak kejadian itu saya sering melakukan making love dengan Rani,
bahkan sering Rani yang memulai lebih dulu Akhirnya pada hari terakhir saya
mengantar Rani ke bandara Selaparang Hari masih pagi kira-kira jam 05 25,
karena pesawatnya akan berangkat jam 07 00 Mungkin Rani masih ingin curhat pada
saya mengenai beberapa hal
“Wah,
masih sepi ya ”
“Iya Rani, baru kita aja yang datang, tapi nggak apalah, kita khan bisa ngobrol” jawab saya santai
“Iya, ya”
“Iya Rani, baru kita aja yang datang, tapi nggak apalah, kita khan bisa ngobrol” jawab saya santai
“Iya, ya”
Pagi
itu Rani mengenakan hem yang baru dibelinya dan dipadu dengan rok jins mini
kesukaannya yang berwarna putih Setelah mengobrol sekitar lima belas menit, Rani
kelihatannya gelisah dan mengajak saya ke toilet wanita
“Saya
tunggu di sini ya”
“Udah ayo masuk, mumpung nggak ada orang” pinta Rani sambil menggandeng tangan saya masuk ke toilet wanita itu
“Udah ayo masuk, mumpung nggak ada orang” pinta Rani sambil menggandeng tangan saya masuk ke toilet wanita itu
Lalu
kami masuk ke kamar mandi di pojok yang kosong Gila juga Rani, nanti kalau ada
yang tahu bagaimana, pikirku Belum sempat saya berpikir panjang, Rani sudah
melepas celana dalamnya yang berwarna merah dan mendorong saya duduk di atas
toilet modern itu
“Eh
Rani Gimana kalo ada orang nich” jawab saya bingung, tapi akhirnya saya lepas
juga celana jins beserta CD saya hingga si boy nongol dengan tegaknya
“Sst Udah diam aja kamu” jawab Rani sambil meremas kontol saya hingga tegak sempurna
“Tapi belum pake kondom nich”
“Nggak usah, Rani pengin yang original, ayo ” pintanya sambil mengarahkan kontol saya pada vaginanya
“Sst Udah diam aja kamu” jawab Rani sambil meremas kontol saya hingga tegak sempurna
“Tapi belum pake kondom nich”
“Nggak usah, Rani pengin yang original, ayo ” pintanya sambil mengarahkan kontol saya pada vaginanya
Saya
juga membantunya dengan memegang pantatnya hingga masuk semua kontol saya pada
vaginanya Posisi saya yang duduk memangku Rani dan Rani berhadapan dengan saya
mengakibatkan tekanan vaginanya lebih terasa
“Sst
Ndi Ayo Cepetan Sst ”
“Iya ” jawab saya sambil dengan cepat menyodokkan kontol keluar masuk vaginanya
“Iya ” jawab saya sambil dengan cepat menyodokkan kontol keluar masuk vaginanya
Untung
saja pagi itu belum ramai oleh penumpang dan toilet itu belum ada yang
mendatanginya hingga Rani dan saya bisa making love dengan nikmat yang bercampur dengan perasaan
berdebar-debar
“Sst
Sayang Cepet Ssrrtt ” rintih Rani sambil menggoyang pinggulnya dengan liar
“Sst Mmhmm Ssrttss ” desisnya
“Sst Mmhmm Ssrttss ” desisnya
“
Rani Sst ” desis saya lirih sambil tangan saya melepas kancing hemnya dan masuk
ke dalam BH-nya serta meremas payudaranya dengan pelan, bahkan kadang-kadang
saya cium juga bibirnya yang merah basah dengan gemas, yang dibalasnya dengan
ciuman yang liar juga
“Ssrtss
Ssttrtss ” rintih Rani pelan sambil mempercepat goyangan pinggulnya
Dan
akhirnya kegiatan yang berlangsung kurang lebih 40 menit itu saya akhiri dengan
mempercepat sodokan kontol saya dengan cepat hingga akhirnya muncratlah lahar
putih saya dalam vaginanya dengan keras tanpa penghalang kondom
“Sst
Arkhkk ” jerit Rani sambil memeluk saya dengan erat karena bersamaan dengan
keluarnya lahar putih saya, juga keluar lahar putih dari Rani Hingga beberapa
saat saya dan Rani masih menikmati sensasi making love itu dengan berciuman
lembut
“Trim’s
ya Mas ”
“Sama-sama
Rani, kapan-kapan main-main ke Lombok dan making love lagi ya” jawab saya
sambil membereskan celana dan baju, begitu pula dengan Rani yang mengganti
celana dalamnya dengan yang berwarna hijau lumut
Setelah
rapi, saya dan Rani keluar toilet untuk mengobrol lagi menunggu pesawat yang
masih belum berangkat juga Beberapa saat kemudian baru Rani berangkat ke
Jakarta dengan membawa dan meninggalkan sejuta kenangan akibat making love
denganku
Selamat
jalan Rani, terima kasih atas amplop dan kenangan making love nya serta ijinmu
agar saya bisa mengirimkan cerita pengalaman kita berdua ini.

Post a Comment