Cerita Dewasa Mesum Linda Si Apoteker Cantik
Cerita Dewasa Mesum Linda Si Apoteker Cantik
![]() |
| Cerita Dewasa Mesum Linda Si Apoteker Cantik |
DominoQQ-Cerita Dewasa-Aku pulang dari Balikpapan setelah berada di sana selama tiga
minggu untuk urusan kAntonr. Aku tidak dapat pesawat yang langsung ke Jakarta,
jadi terpaksa naik pesawat terakhir yang transit di Surabaya. Karena badan
terasa lelah sekali, begitu pesawat take off aku langsung tertidur lelap dengan
melepas seat belt agar lebih nyaman. Aku sudah tidak peduli dengan penumpang di
sampingku. Seorang wanita berumur tiga puluhan. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan
suara halus.
“Pak,
sandarannya ditegakkan dan sabuknya dipasang. Sudah mau landing”
Ternyata
suara pramugari mengingatkanku. Aku setengah terkejut dan kesadaranku masih
belum pulih ketika roda pesawat sudah menyentuh landasan. Setelah pesawat
berhenti baru aku sadar sepenuhnya. Kemudian awak kabin mengumumkan pesawat
akan transit selama 45 menit dan penumpang dipersilakan untuk turun menunggu di
ruang tunggu bandara Juanda.
Karena
aku duduk di dekat jendela, maka aku menunggu wanita tadi keluar dari
bangkunya. Aku mengikuti barisan penumpang yang turun dan tak lama aku sudah
berada di ruang tunggu. Wanita tadi duduk di depanku agak ke menyamping ke
kanan. Aku berdiri sebentar dan merentangkan tanganku agar otot-ototku relaks,
lalu duduk lagi. Wanita tadi memperhatikanku sekilas. Kulempar senyum dan iapun
membalas sekedarnya. Kacamata tipis, mungkin minus satu atau paling banter
minus dua bertengger di hidungnya yang bagus.
Kubaca
Matra Edisi Khusus yang kubeli di book store. Liputannya tentang kehidupan
malam sepanjang Bopunjur. Tahu Bopunjur? Bogor, Puncak, Cianjur. Kubuka-buka
sebentar dan sekilas isinya aku sudah tahu. Bahkan bukan sombong, tempat-tempat
yang disebutkan di dalam liputan itupun bukanlah sesuatu yang asing bagiku.
Akhirnya kuletakkan Matra tadi di atas meja di sampingku. Wanita tadi sekilas
memperhatikan covernya.
“Mas,
boleh pinjam majalahnya?” ia bertanya sambil mendekat mengambil Matra tadi.
Sayang,
rupanya tempat duduknya kemudian diambil orang yang berdiri dan mengobrol
dengan teman yang duduk di sebelah wanita tadi. Kuturunkan tasku dari bangku di
sampingku dan tanpa disuruh wanita tadi sudah duduk di situ dan mulai membuka
lembaran majalah yang dipegangnya.
Terdengar
pengumuman bahwa pesawat yang kunaiki mengalami gangguan teknis sehingga
pemberangkatan ditunda satu jam. Kudengar gerutuan sebagian penumpang. Wanita
tadi cuma memiringkan kepalanya memperhatikan pengumuman tadi dan setelah itu
ia kembali asyik membaca.
Setelah
tiga puluh menit membaca, ia menyerahkan majalah itu kembali padaku sambil mengucapkan
terima kasih. Aku memulai percakapan.
“Ke
Jakarta?” tanyaku.
“Iya, untuk tugas dari kAntonr,” jawabnya.
“Di Jakarta tinggal di mana?” tanyaku lagi.
“Belum tahu, sebenarnya saya harus ke Ciawi untuk ikut kursus, tapi nampaknya kita akan kemalaman tiba di Cengkareng. Aku sendiri belum hafal Kota Jakarta. Apalagi malam hari. Tadi kalau berangkat siang sih sebenarnya ada panitia yang jemput. Mau langsung ke Ciawi agak ngeri, apalagi setelah membaca liputan tadi”.
“Iya, untuk tugas dari kAntonr,” jawabnya.
“Di Jakarta tinggal di mana?” tanyaku lagi.
“Belum tahu, sebenarnya saya harus ke Ciawi untuk ikut kursus, tapi nampaknya kita akan kemalaman tiba di Cengkareng. Aku sendiri belum hafal Kota Jakarta. Apalagi malam hari. Tadi kalau berangkat siang sih sebenarnya ada panitia yang jemput. Mau langsung ke Ciawi agak ngeri, apalagi setelah membaca liputan tadi”.
Dari
logatnya aku menduga ia berasal dari Banjar. Setelah kutanyakan kepadanya
ternyata benar dan ia sudah bekerja di Balikpapan selama lima tahun. Aku tidak
menanyakan statusnya. Buat apa pikirku. Toh aku tidak berniat memacarinya.
“Kerja
di mana sih?” Pertanyaanku mulai menjurus hal-hal yang personal.
“Saya apoteker”.
“Pantas bajunya bau obat,” aku kelepasan bicara. Aku baru sadar setelahnya. Ia melengos mukanya memerah, mungkin tersinggung dengan ucapanku tadi.
“Saya apoteker”.
“Pantas bajunya bau obat,” aku kelepasan bicara. Aku baru sadar setelahnya. Ia melengos mukanya memerah, mungkin tersinggung dengan ucapanku tadi.
Satu
jam berlalu dan kulihat ia menjadi gelisah sambil terus-menerus memandang keluar,
ke arah landasan. Akhirnya setelah seperempat jam kemudian pesawat kami sudah
siap melanjutkan penerbangan dan para penumpangpun naik ke pesawat.
Lima
puluh menit kemudian pesawat sudah tiba di Cengkareng. Karena tidak bawa
bagasi, aku bergegas keluar. Wanita tadi masih menunggu tas satunya di bagasi.
Aku masih berdiri di luar sambil cari-cari taksi ketika wanita tadi
mendekatiku.
“Mas
pulangnya kemana?”
“Saya tinggal di Jakarta Timur”.
“Saya tinggal di Jakarta Timur”.
Dia
kelihatan ragu hendak mengatakan sesuatu. Aku menduga-duga ini ada kaitannya
dengan tujuan kepergiannya.
“Kalau
mau begini saja. Mbak nginap saja di hotel, besok pagi baru berangkat ke Ciawi.
Lebih aman,” kataku menyarankan. Kulihat dia ragu-ragu dan kelihatan seperti
sosok yang lemah. Dia menatapku lagi seakan-akan minta perlindungan.
“OK, jadi begini, Mbak nginap di hotel. Saya akan temani. Eh.. Maksudnya saya ambil kamar satu juga di sana. Besok pagi saya antar ke Ciawi. Kebetulan saya masih ada kelebihan hari perjalanan dinas,” kataku memutuskan.
“OK, jadi begini, Mbak nginap di hotel. Saya akan temani. Eh.. Maksudnya saya ambil kamar satu juga di sana. Besok pagi saya antar ke Ciawi. Kebetulan saya masih ada kelebihan hari perjalanan dinas,” kataku memutuskan.
Akhirnya
dia setuju dan mukanya menjadi cerah.
“Oh
ya maaf, dari tadi kita belum kenalan. Saya Linda,” katanya sambil mengulurkan
tangan.
“Anton,” kataku sambil kujabat tangannya.
“Anton,” kataku sambil kujabat tangannya.
Aku
berpikir, kalau saja dia tidak memerlukan pertolonganku, mungkin dia tidak akan
mengajak berkenalan. Tapi wajar saja karena dia perempuan.
Beberapa
menit kemudian kami sudah sampai di sebuah hotel di kawasan Matraman. Kami
dapat kamar bersebelahan. Kami masing-masing masuk ke kamar dan berjanji untuk
makan di bawah setelah mandi dan merapikan diri. Setengah jam kemudian kuketuk
pintu kamarnya. Tok tok tok.
“Linda..
Linda. Ini Anton”.
“Tunggu sebentar Mas”.
“Tunggu sebentar Mas”.
Tak
lama kemudian ia membuka pintu kamarnya. Kulihat sekilas barangnya masih
berantakan di atas ranjang. Kamipun segera turun ke bawah untuk mencari
makanan. Dengan pertimbangan biaya kuajak dia untuk makan di warung tenda saja.
Di Jakarta tidak ada tempat untuk gengsi.
“Saya
dari Balikpapan kepingin makan gudeg setelah sampai di Jawa,” katanya.
“Ada, nanti kita cari,” jawabku sambil menyusuri trotoar.
“Ada, nanti kita cari,” jawabku sambil menyusuri trotoar.
Jalan
sudah mulai lancar, kupegang tangan kanannya. Ia terkejut dan dengan halus
menarik tangannya. Sekilas kulihat jarum pendek sudah melewati angka sembilan.
“Sorry..
Saya hanya mau lihat jam saja kok”. Ia hanya menunduk dan kamipun terus berjalan.
Setelah
makan gudeg, kami kembali ke hotel dan duduk di lobby. Rasa penat masih terasa
di badanku. Aku sebenarnya mau massage, tapi nggak enak sama Linda. Kami masih
bicara ke sana ke mari, sampai akhirnya kami merasa mengantuk. Kulihat jam
dinding menunjukkan jam setengah sebelas.
Kami
naik dan kuantar dia di depan kamarnya. Kuharap dia mempersilakanku masuk,
namun Linda hanya mengucapkan terima kasih kemudian selamat malam dan menutup
pintunya. Sekilas kulihat sorot matanya yang berbinar memandangku.
Aku
masuk ke kamar dan langsung membaringkan diri ke atas ranjang tanpa membuka
pakaianku. Kucoba untuk memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Kubayangkan Linda
yang tidur sendirian di kamar sebelah. Lebih satu jam aku hanya bergolek ke
kanan kekiri tanpa bisa memejamkan mata. Akhirnya kuputuskan kuhubungi saja
gadis di kamar sebelah ini. Kuraih gagang telepon dan kutekan nomor kamarnya,
237. Setelah beberapa kali berdering kemudian dari seberang terdengar suara
agak serak,
“Hallo”.
“Linda, belum tidur kan?”
“Eh.. Mas Anton. Belum Mas, mataku tidak bisa terpejam. Padahal di lobby tadi sudah menguap terus. Mikirin besok pagi”.
“Atau lagi mikirin yang lainnya kali,” kataku menggodanya.
“Ahh Mas Anton ini ada-ada saja”.
“Kita ngobrol lagi aja yuk,” ajakku.
“Sudah malam, nggak enak dilihatin orang nanti”.
“Ini Jakarta Non, saya ke kamarmu ya?” kataku dengan nada setengah memaksa.
“Iya deh,” katanya lemah.
“Linda, belum tidur kan?”
“Eh.. Mas Anton. Belum Mas, mataku tidak bisa terpejam. Padahal di lobby tadi sudah menguap terus. Mikirin besok pagi”.
“Atau lagi mikirin yang lainnya kali,” kataku menggodanya.
“Ahh Mas Anton ini ada-ada saja”.
“Kita ngobrol lagi aja yuk,” ajakku.
“Sudah malam, nggak enak dilihatin orang nanti”.
“Ini Jakarta Non, saya ke kamarmu ya?” kataku dengan nada setengah memaksa.
“Iya deh,” katanya lemah.
Kuketok
pintu kamarnya tiga kali dan kemudian pintu dibuka dari dalam. Aku masuk, kini
barangnya gantian berantakan di atas kursi.
“Maaf
Mas, berantakan. Belum sempat beresin. Rencananya besok aja sekalian berkemas.
Duduk, Mas!”.
Aku
mengedarkan pandanganku. Karena sudah tidak ada tempat duduk lagi maka aku
duduk diatas ranjangnya. Kami akhirnya ngobrol tentang pengalaman kami
masing-masing saat masih kuliah. Semakin lama semakin seru topik obrolan kami.
Ia mengeluarkan dua kaleng minuman ringan dari mini bar. Dan meletakkannya di
antara kami.
“Diminum
Mas”.
Aku
mengambil satu kaleng tapi tidak kubuka, hanya kupegang-pegang saja. Entah
bagaimana awalnya, tangannya tiba-tiba sudah kupegang dan kutarik dia ke
pangkuanku. Kucium bibirnya dengan ganas. Linda menghindari ciumanku, tapi aku
tidak menyerah. Kucoba lagi, kali ini bibirku mendarat pas pada bibirnya. Ia
meronta sebentar tapi kemudian ia membalas ciumanku dengan tidak kalah
ganasnya.
“Mas..
Ah.. Ehh .. Ouhh,” Ia gelagapan membalas seranganku.
Kulepaskan
seranganku sebentar karena aku merasa jalan tol sudah terbuka di depanku,
sekarang tinggal tunggu saat yang tepat saja untuk memacu mobilku. Kutatap dia
dengan tajam. Ia kelihatan jengah dan menghindari tatapanku. Ketika mata kami
saling bertemu, aku memberi isyarat dengan menganggukkan kepalaku. Iapun
mengangguk malu dan menundukkan mukanya.
Aku
sedikit terkejut ketika sadar bahwa ia tidak mengenakan bra di bawah kausnya.
Aku tahu karena putingnya menonjol, membentuk bayangan satu titik di kausnya.
Aku tersenyum sambil melirik pada payudara Linda.
Linda
cuma tersenyum melihatku, kakinya di taruh diatas pahaku serta dia menyodorkan
dadanya ke depan mukaku. Tanpa ada di beri komando saya segera meremas
payudaranya dengan penuh nafsu. Tanganku lalu buka kausnya. Saya menciumi
payudaranya serta mengisap putingnya yang mulai mengeras. Tangan Linda membelai
rambutku sembari sesekali mendorongnya ke payudaranya.
Saya
memakai jariku untuk membelai daerah selangkangannya, serta jariku juga mulai
menghimpit terlebih di lipatan vaginanya. Tangan Linda digesek-gesekan di
penisku yang juga telah mengeras.
“Aah..
Mas ss.. Enak.. Teruss.. Anton.. Ahh”
Mendengar
erangan Linda nafsuku telah tidak bisa ditahan lagi. Saya merebahkan diri
sembari menciumi leher Linda serta naik ke bibirnya. Kubuka celana panjangku.
Saya selalu menciumnya dengan penuh nafsu, kutindih badannya di atas spring bed
yang empuk. Kulirik bayangan di kaca almari. Tubuhku yang besar seakan-akan
menenggelamkan tubuhnya yang mungil. Sembari mendesah Linda tertawa kegelian,
“Ahh..
Nafsu sangat sih.. ”
Kubuka
celana pendeknya serta kutarik sekalian dengan celana dalamnya.
“Akhh..
”
Kami
sama-sama mengulum bibir dengan penuh nafsu, nafas kami mulai tak teratur. Kaki
Linda menjepit pinggangku Saya menciumi leher lalu turun ke payudaranya, lantas
saya hisap putingnya. Selalu turun serta mengisap pusarnya, Linda tak tahan
diperlakukan sekian,
“Anton..
Akh.. Geli akh.., ”
Saya
selalu menciuminya lantas saya turun serta waktu hingga di depan
selangkangannya saya turunkan kepalaku, menjilati paha serta sesekali
menggigitnya. Dia mengganjal kepalanya dengan bantal serta memerhatikanku. Saat
mulutku bakal menyapu vaginanya ia menarik kepalaku ke atas serta menciumiku
kembali.
“Jangan..
Saya tak umum.. ”.
Penisku
kuarahkan ke vaginanya yang basah, kutekan perlahan-lahan serta waktu telah
masuk setengahnya saya menghimpit dengan keras.
“Sshh..
Akhh.. Selalu To.. Akh.., ” Linda merintih
Bibir
kami sama-sama bertautan dengan kuat. Saat kulepaskan bibirnya yang malah
mencari-cari bibirku. Mulutnya 1/2 terbuka sembari mendesis-desis. Saya
menggerakkan penisku dengan perlahan-lahan serta terkadang saya percepat
temponya. Rasa-rasanya penisku dijepit serta diremas-remas dengan kuat oleh
otot vaginanya. Serta hal semacam ini bikin saya makin tak tahan, penisku
rasa-rasanya telah nyaris meledak.
Saya
selalu memompa penisku di vaginanya dengan tempo yang jadi tambah cepat.
Nafasku mulai memburu. Payudaranya kuremas serta kupencet hingga putingnya jadi
tambah menonjol. Kujilati putingnya serta kugigit-gigit dengan bibirku. Saya
menghnetak-hentakkan badan Linda ke ranjang dengan kasar waktu saya telah tidak
bisa menahan ledakan penisku,
“Dell
Linda.. Akh.. Ouch.. Akh.. ”.
Kurasakan
badan Linda juga mulai bergetar serta bergerak-gerak dengan irama yang liar.
Matanya merem melek, bola matanya memutih. Kakinya menjepit pinggangku. Badanku
mengejang serta saya menghimpit badan Linda sampai makin badan kami makin
merapat.
“Akh..
Anton.. Sangat nikmat.. Sss”
“Yeah Linda.. Akh. Bila saja dari tadi.. Tentu saya.. ”
“Akh.. Tekan yang cepat serta kuat.. Akh.. ”
“Yeah Linda.. Akh. Bila saja dari tadi.. Tentu saya.. ”
“Akh.. Tekan yang cepat serta kuat.. Akh.. ”
Mata
Linda merem melek nikmati sodokan penisku. Saya lalu mengangkat ke-2 kakinya
serta memegangnya dengan tanganku. Saya dalam posisi 1/2 jongkok dengan tumpuan
ke-2 lututku. Tanganku memegang pinggangnya serta penisku menghimpit dengan
irama yang makin cepat. Vaginanya merasa basah serta becek, tetapi penisku
seperti dijepit kuat dengan tang.
“Akgh
Anton.. Saya nyaris.. A a kku.. Nyaris keluarhh.. Ouchhggakhh, ”
Kurebahkan
badanku di atas badannya serta kupeluk dengan rapat. Saya nikmati ekspresinya
waktu Linda menanti meraih orgasmenya. Kudiamkan sesaat gerakan penisku. Linda
protes serta tangannya memegang pinggangku dan menggerakkannya naik turun.
Kurasa tensinya sedikit turun. Saya masihlah menginginkan nikmati permainan
serta kuharapkan bisa kucapai puncak berbarengan.
Saya
mengehentakkan pantatku naik turun dengan sedikit kasar. Keringat kami telah
mulai bercucuran. Tangan Linda meremas-remas pantatku serta terkadang
menariknya seolah-oleh penisku kurang dalam masuk dalam vaginanya. Waktu saya
rasakan nyaris meledak saya melambatkan gerakanku serta mengatur nafasku
sembari mengisap putingnya, saat perasaan itu sedikit hilang saya mulai
bergerak lagi.
Tangannya
meremas pundakku serta dengan liar bibirnya mencari bibirku. Dia mendesah serta
gerakannya begitu liar. Saya tahu saat ini waktunya kami bisa meraih puncak
kesenangan paling tinggi berbarengan.
“Yeah..
Anton.. Akhh. Anda belum ingin keluar juga.. Akhh ouchh.. ”
Linda
mengejang dia mengangkat pantat menghimpit penisku hingga rasa-rasanya hingga
di basic rahimnya serta penisku terasanya disedot dengan kuat, badan Linda
melengkung serta tangannya menyeka pipiku dengan kuat. Kutekan pantatku
perlahan-lahan tetapi penuh tenaga.
“Yeacchchh..
”.
Badan
kami menggelinjang dengan hebat, kami berteriak serta tak peduli bila ada orang
lain yang mendengarnya.
“Akhh..
To.. Anton.. Aakkhh.. ”.
“Linda anda hebataunhh.. Akh.. Ouchhakhh.. Akh.. Ouch.. ”
“Linda anda hebataunhh.. Akh.. Ouchhakhh.. Akh.. Ouch.. ”
Kami
mengelepar nikmati kesenangan yang kami rasakan berbarengan. Saya beranjak
bangun dari badannya waktu penisku telah mengecil, Badannya bergetar waktu saya
mencabut penisku.
“Kau
mengagumkan Del.. Hmm.. Tabat Barito ya! ” pujiku.
Ia
tersenyum saja serta menggayut di lenganku, “Kok tahu saja sih.. ”. Tuturnya
manja.
“Apoteker yang miliki obat-obatan komplitpun masihlah memercayakan Tabat Barito. Mengagumkan memanglah, ” kataku lagi.
“Apoteker yang miliki obat-obatan komplitpun masihlah memercayakan Tabat Barito. Mengagumkan memanglah, ” kataku lagi.
Kami
tidur berpelukan hingga pagi serta paginya kuantarkan dia ke Ciawi. Dia
berjanji bakal bermalam lagi semalam di Jakarta serta memberi lebih lagi kelak
ketika dia ingin pulang ke Balikpapan.

Halo Bosku ^^
ReplyDeleteSegera Daftarkan ID di www. SmsQQ .com
Ada 4 Permainan Dalam 1 ID
Bandar Q,Poker,Domino QQ,Bandar Poker
www. SmsQQ .com Juga Menyediakan Promo Menarik
Bonus Turn Over Terbesar
Bonus Refferal Seumur Hidup
Minimal deposit 10rb
BBM :2AD05265
WA:+855968010699
Skype:smsqqcom@gmail.com
Ditunggu Kehadirannya Bosku di www,SmsQQ,com