Cerita Seks ABG Cewek Hot Hanya Bisa Pasrah
![]() |
| Cerita Seks ABG Cewek Hot Hanya Bisa Pasrah |
DominoQQ-Ceita Sex-Nama panjangnya adalah Lisa Lim. Mba Lisa, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru tari di Sanggar Tari Pelangi. Ricky tak pernah tahu usia wanita itu yg sesungguhnya, tetapi pokoknya ia tak tampak terlalu tua, walau jelas bukan pula remaja. Wajahnya -jika memakai ukuran normal- tdklah terlalu cantik. Tdk pula terlalu jelek. Biasa-biasa saja Tetapi Mba Lisa memiliki mata yg sangat indah, bening dihiasi bulu mata lentik. Jg memiliki bibir yg -menurut Ricky- sangat menarik, karena selalu kelihatan basah.
Waktu itu Ricky duduk di bangku SMA, kelas dua A. Untuk usianya,
waktu itu Ricky tergolong “terlambat” dalam soal pacaran. Ia tdk punya teman
wanita istimewa, karena baginya semua teman wanitanya sama saja. Konon ada yg
naksir, namanya Putri, gadis dari kelas 2 B.-cerita sex terbaru– Tetapi Ricky tdk
tertarik, walau kata teman-temannya gadis itu tergolong ratu. Bagi Ricky, ia
memang ratu, tetapi entah kenapa ia tdk tertarik. Berenang di sungai lebih
menarik bagi Ricky, katimbang jalan-jalan dgn Putri.
Tetapi
Mba Lisa menarik hatinya sejak awal mereka berjumpa. Waktu itu, Ricky mengantar
adik perempuannya, Rini, ke sanggar untuk latihan menari. Ricky sangat sayang
kepada adik satu-satunya yg baru berusia 7 tahun itu (jarak dua kakak-beradik
ini memang terlalu jauh). Dgn sepeda, diboncengnya Rini ke sanggar, dan
diantarnya sampai ke ruang latihan di tengah kompleks sanggar. Saat itulah ia
melihat Mba Lisa, sedang mengikatkan setagen ke sekeliling pinggangnya.
“Selamat sore Rini…,” ucap Mba Lisa menyapa Rini, lalu sekejap melirik Ricky.
Cerita dewasa terbaru, Suara wanita itu lembut tetapi bernada wibawa, pikir Ricky sambil melepas gandgn tangan adiknya.
“Mba Lisa, ini kakak saya…,” Rini menunjuk ke Ricky yg masih berdiri di pintu ruang latihan.
Mba Lisa mengangkat muka, dan tersenyum kepada Ricky. Agak canggung, Ricky membalas tersenyum dan berucap serak,
“Selamat sore, mbak…”.
Mba Lisa hanya mengangguk tanpa berhenti tersenyum, lalu menerima salam Rini, dan berbalik menuju tempat segerombolan anak-anak yg sedang bersiap belajar menari. Ricky masih berdiri, memandang tubuh Mba Lisa dari belakang, dan entah kenapa ia merasa jantungnya berdegup lebih keras. Tubuh Mba Lisa menyita perhatiannya, terbungkus kain dan baju ketat, menampakkan lika-liku yg menawan. Astaga, pikir Ricky, wanita ternyata bisa menarik jg!
“Selamat sore Rini…,” ucap Mba Lisa menyapa Rini, lalu sekejap melirik Ricky.
Cerita dewasa terbaru, Suara wanita itu lembut tetapi bernada wibawa, pikir Ricky sambil melepas gandgn tangan adiknya.
“Mba Lisa, ini kakak saya…,” Rini menunjuk ke Ricky yg masih berdiri di pintu ruang latihan.
Mba Lisa mengangkat muka, dan tersenyum kepada Ricky. Agak canggung, Ricky membalas tersenyum dan berucap serak,
“Selamat sore, mbak…”.
Mba Lisa hanya mengangguk tanpa berhenti tersenyum, lalu menerima salam Rini, dan berbalik menuju tempat segerombolan anak-anak yg sedang bersiap belajar menari. Ricky masih berdiri, memandang tubuh Mba Lisa dari belakang, dan entah kenapa ia merasa jantungnya berdegup lebih keras. Tubuh Mba Lisa menyita perhatiannya, terbungkus kain dan baju ketat, menampakkan lika-liku yg menawan. Astaga, pikir Ricky, wanita ternyata bisa menarik jg!
Untuk
beberapa jenak, Ricky masih berdiri di depan pintu, menelan ludah berkali-kali
dan merasa wajahnya merah karena malu. Kepada siapa? Entahlah. Tetapi
perjumpaan pertama dgn Mba Lisa berbekas keras di kalbunya. Sambil mengayuh
sepedanya pulang, Ricky tiba-tiba memiliki pikiran-pikiran seronok. Gila kamu!
tukasnya dalam hati, menyalahkan diri sendiri. Mana mungkin kamu bisa
meremas-remas tubuh itu! ucap suara lain di kepalanya. Meremas….? Dari mana
datangnya ide gila itu? pikir Ricky gelisah. Berkali-kali Ricky merasa sadel
sepedanya terasa lebih kecil dari biasanya, dan selakangannya sering terasa
geli. Sial! sergahnya dalam hati.
Ketika ayah memintanya menjemput Rini, dgn bersemangat Ricky mengatakan ya. Lalu, ia pun tiba di sanggar 15 menit sebelum waktu latihan selesai. Ia duduk di bawah pohon kamboja, tdk jauh dari ruang latihan. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Mba Lisa melenggak-lenggok mengajarkan gerakan yg diikuti oleh belasan anak-anak kecil. Pandangan Ricky tak lekang dari gerakan-gerakan Mba Lisa, dan entah kenapa ia kini mengerti apa artinya sebuah tari yg indah!
Selama ini, bagi Ricky menari adalah kegiatan perempuan yg tak menarik. Menjemukan, bahkan. Tetapi ketika melihat Mba Lisa mengangkat tangan, melenggok ke kiri, menggerakkan pinggulnya …., Ricky menelan ludah lagi. Bajingan kamu! ucap sebuah suara di dalam kepalanya. Ricky membuang muka, mengalihkan pandangannya ke hamparan rumput. Tetapi, seperti ditarik magnit, muka Ricky sesekali kembali lagi memandang ke ruang latihan.
Ketika ayah memintanya menjemput Rini, dgn bersemangat Ricky mengatakan ya. Lalu, ia pun tiba di sanggar 15 menit sebelum waktu latihan selesai. Ia duduk di bawah pohon kamboja, tdk jauh dari ruang latihan. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Mba Lisa melenggak-lenggok mengajarkan gerakan yg diikuti oleh belasan anak-anak kecil. Pandangan Ricky tak lekang dari gerakan-gerakan Mba Lisa, dan entah kenapa ia kini mengerti apa artinya sebuah tari yg indah!
Selama ini, bagi Ricky menari adalah kegiatan perempuan yg tak menarik. Menjemukan, bahkan. Tetapi ketika melihat Mba Lisa mengangkat tangan, melenggok ke kiri, menggerakkan pinggulnya …., Ricky menelan ludah lagi. Bajingan kamu! ucap sebuah suara di dalam kepalanya. Ricky membuang muka, mengalihkan pandangannya ke hamparan rumput. Tetapi, seperti ditarik magnit, muka Ricky sesekali kembali lagi memandang ke ruang latihan.
Dari
ruang tari, Lisa jg bisa melihat keluar, walau perbedaan terang menyebabkan
matanya agak silau jika harus memandang ke arah tempat Ricky duduk. Sambil
terus menggerakkan tubuhnya, Lisa melirik dan mengernyit heran melihat remaja
itu betah duduk sendirian. Biasanya, para penjemput murid-muridnya datang
terlambat, dan tdk pernah berlama-lama di sanggar tari. Apalagi yg laki-laki,
entah itu kakak atau ayah atau paman. Pada umumnya, di kota kecil ini, menari
bukanlah sesuatu yg menarik untuk pria. Makanya, tingkah Ricky bagi Lisa agak
tdk biasa.
Ketika akhirnya latihan selesai, Ricky bangkit dan mendekat ke arah ruang latihan, tetapi tetap dalam keteduhan pohon kamboja. Entah kenapa, ia tak berani lebih dekat. Sebetulnya ia ingin mendekat, tetapi dadanya berdegup kencang setiap kali ia melangkah. Semakin dekat ke ruang latihan, semakin kencang degupnya. Sebab itu, ia berhenti setelah dua langkah saja. Ia akan menunggu saja sampai Rini keluar dan menghampirinya.
Lisa, dgn sedikit peluh di lehernya, mengucap salam perpisahan kepada murid-muridnya. Lalu, sambil melepas stagen, ia berjalan ke pintu. Dilihatnya Rini berlari ke arah penjemputnya, remaja yg betah berlama-lama di bawah pohon kamboja menonton latihannya itu. Sambil melepas ikat rambutnya, sehingga rambutnya yg sebahu kini tergerai, Lisa berdiri di pintu dan berucap lembut, tetapi jg cukup keras untuk didengar Ricky.
“Kenapa tadi tdk tunggu di dalam saja, Dik…,” ujarnya. Ricky cuma bisa menyeringai seperti kera sedang makan kacang.
Ketika akhirnya latihan selesai, Ricky bangkit dan mendekat ke arah ruang latihan, tetapi tetap dalam keteduhan pohon kamboja. Entah kenapa, ia tak berani lebih dekat. Sebetulnya ia ingin mendekat, tetapi dadanya berdegup kencang setiap kali ia melangkah. Semakin dekat ke ruang latihan, semakin kencang degupnya. Sebab itu, ia berhenti setelah dua langkah saja. Ia akan menunggu saja sampai Rini keluar dan menghampirinya.
Lisa, dgn sedikit peluh di lehernya, mengucap salam perpisahan kepada murid-muridnya. Lalu, sambil melepas stagen, ia berjalan ke pintu. Dilihatnya Rini berlari ke arah penjemputnya, remaja yg betah berlama-lama di bawah pohon kamboja menonton latihannya itu. Sambil melepas ikat rambutnya, sehingga rambutnya yg sebahu kini tergerai, Lisa berdiri di pintu dan berucap lembut, tetapi jg cukup keras untuk didengar Ricky.
“Kenapa tadi tdk tunggu di dalam saja, Dik…,” ujarnya. Ricky cuma bisa menyeringai seperti kera sedang makan kacang.
Lisa
tersenyum melihat seringai remaja yg tampak kikuk itu. Ricky menelan ludah
melihat senyum itu. Entah kenapa, senyum itu tampak menarik sekali. Rasanya, Ricky
seperti disiram air sejuk. Gila kamu! ucap suara di dalam kepalanya lagi. Dan Ricky
pun cepat-cepat membungkuk berpamitan, lalu menggandeng tangan Rini menuju
sepeda. Lisa kembali tersenyum memandang kedua kakak-beradik yg akur itu
meninggalkan sanggarnya.
Sejak pertemuan itu, Ricky sering melamunkan Mba Lisa. Lebih gila lagi, saat mandi dan menyabuni tubuhnya, Ricky merasakan darahnya berdesir membayangkan Mba Lisa. Percuma ia mengguyurkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya, tetap saja kelaki-lakiannya perlahan menegang. Aduh celaka! jeritnya dalam hati, ketika melihat ke bawah.
Sejak pertemuan itu, Ricky sering melamunkan Mba Lisa. Lebih gila lagi, saat mandi dan menyabuni tubuhnya, Ricky merasakan darahnya berdesir membayangkan Mba Lisa. Percuma ia mengguyurkan bergayung-gayung air dingin ke tubuhnya, tetap saja kelaki-lakiannya perlahan menegang. Aduh celaka! jeritnya dalam hati, ketika melihat ke bawah.
Cepat-cepat
ia menyabuni dirinya, lalu membilasnya, membungkus tubuhnya dgn handuk dan lari
ke luar kamar mandi menuju kamarnya. Mudah-mudahan tdk ada yg melihat tonjolan
di bawah pinggangnya yg terbungkus handuk itu!
Malam hari, ketika ia gelisah bergulang-guling di ranjangnya, Ricky kembali membayangkan Mba Lisa. Lagi-lagi terbayang pinggulnya yg padat berisi, pinggangnya yg ramping, dan dadanya yg membusung walau tdk terlalu besar. Ricky jg terkenang lehernya yg agak basah oleh keringat. Jg bibirnya. Ya, bibirnya itu yg paling menawan. Selalu basah, dan tampaknya lembut sekali. Apalagi kalau ia tersenyum, menampakkan sedikit gigi-giginya yg putih. Bagaimana rasanya menggigit bibir itu?
Ricky makin gelisah, sebab kini kelaki-lakiannya menengang lagi seperti ketika ia sedang mandi. Malam sdh agak larut, dan rumah sdh sepi. Tak ada suara-suara, selain jangkerik. Ricky menelungkupkan tubuhnya. Celaka, justru gerakan itu menyebabkan kelaki-lakiannya terjepit di antara tubuhnya dan kasur yg empuk. Tanpa sadar, Ricky menggerak-gerakkan badannya, menggesekkan kelaki-lakiannya ke kasur. Matanya terpejam, dan terbayang ia berada di atas tubuh Mba Lisa. Terbayang ia mengulum bibir Mba Lisa yg basah. Terbayang dadanya yg ceking menempel di dada Mba Lisa yg kenyal. Gila! Ricky terlonjak ketika merasakan cairan hangat mengalir cepat membasahi celana dalamnya. Untung ia sigap, sehingga seprai tdk ikut basah.
Hanya saja, di pagi hari ia harus mencari alasan untuk bisa mencuci sendiri celana dalamnya, tanpa harus mencuci pakaian anggota keluarga yg lain!
Malam hari, ketika ia gelisah bergulang-guling di ranjangnya, Ricky kembali membayangkan Mba Lisa. Lagi-lagi terbayang pinggulnya yg padat berisi, pinggangnya yg ramping, dan dadanya yg membusung walau tdk terlalu besar. Ricky jg terkenang lehernya yg agak basah oleh keringat. Jg bibirnya. Ya, bibirnya itu yg paling menawan. Selalu basah, dan tampaknya lembut sekali. Apalagi kalau ia tersenyum, menampakkan sedikit gigi-giginya yg putih. Bagaimana rasanya menggigit bibir itu?
Ricky makin gelisah, sebab kini kelaki-lakiannya menengang lagi seperti ketika ia sedang mandi. Malam sdh agak larut, dan rumah sdh sepi. Tak ada suara-suara, selain jangkerik. Ricky menelungkupkan tubuhnya. Celaka, justru gerakan itu menyebabkan kelaki-lakiannya terjepit di antara tubuhnya dan kasur yg empuk. Tanpa sadar, Ricky menggerak-gerakkan badannya, menggesekkan kelaki-lakiannya ke kasur. Matanya terpejam, dan terbayang ia berada di atas tubuh Mba Lisa. Terbayang ia mengulum bibir Mba Lisa yg basah. Terbayang dadanya yg ceking menempel di dada Mba Lisa yg kenyal. Gila! Ricky terlonjak ketika merasakan cairan hangat mengalir cepat membasahi celana dalamnya. Untung ia sigap, sehingga seprai tdk ikut basah.
Hanya saja, di pagi hari ia harus mencari alasan untuk bisa mencuci sendiri celana dalamnya, tanpa harus mencuci pakaian anggota keluarga yg lain!
Beberapa
hari setelah perjumpaan pertamanya dgn Ricky, kembali Lisa terheran melihat
remaja itu sdh ada setengah jam sebelum latihan usai. Setengah jam! Betapa
lamanya ia akan menanti di situ sendirian, ucap Lisa dalam hati sambil terus
menggerakkan badannya di depan para penari cilik. Berkali-kali Lisa melirik ke
arah pohon kamboja, dan bertanya-tanya dalam hati, mengapa gerangan remaja itu
begitu betah menunggu adiknya. Terlebih-lebih lagi, remaja itu selalu memandang
ke dalam dgn seksama. Sialan, mungkin ia tertarik melihat tubuhku, umpat Lisa
dalam hati. Tetapi, mungkin jg ia tertarik pada tarianku. Siapa tahu? Atau
mungkin tertarik pada dua-duanya, ucap Lisa dalam hati. Ia tersenyum sendiri
ketika mengambil kesimpulan terakhir ini.
“Satu … dua…tiga …. empat, putar……,” Lisa memutar tubuh memberi contoh, diikuti oleh bidadari-bidadari kecil yg tertatih-tatih mencoba meniru sesempurna mungkin.
“Satu .. dua … tiga … empat, putar….,” suaranya lembut, tetapi tegas dan cukup nyaring.
Ricky menyenderkan tubuhnya di batang pohon kamboja. Sayup-sayup suara Mba Lisa sampai di telinganya. Terdengar merdu. Gila! semua yg berhubungan dgn wanita itu selalu bagus. Apa-apaan ini? sebuah suara menghardik di kepala Ricky, membuatnya tertunduk sendiri. Dicabutnya sebatang rumput, dimain-mainkannya di antara jari-jarinya. Ricky merenung, bertanya-tanya, apa gerangan yg terjadi dalam dirinya. Mengapa Mba Lisa jadi begitu menarik, padahal ia jauh lebih tua dariku? Mengapa Putri yg seusia denganya itu tdk semenarik Mba Lisa, padahal Putri jg cantik. Ricky menarik nafas dalam-dalam, lalu kepalanya terangkat lagi, memandang lagi ke dalam ruang latihan.
“Satu … dua…tiga …. empat, putar……,” Lisa memutar tubuh memberi contoh, diikuti oleh bidadari-bidadari kecil yg tertatih-tatih mencoba meniru sesempurna mungkin.
“Satu .. dua … tiga … empat, putar….,” suaranya lembut, tetapi tegas dan cukup nyaring.
Ricky menyenderkan tubuhnya di batang pohon kamboja. Sayup-sayup suara Mba Lisa sampai di telinganya. Terdengar merdu. Gila! semua yg berhubungan dgn wanita itu selalu bagus. Apa-apaan ini? sebuah suara menghardik di kepala Ricky, membuatnya tertunduk sendiri. Dicabutnya sebatang rumput, dimain-mainkannya di antara jari-jarinya. Ricky merenung, bertanya-tanya, apa gerangan yg terjadi dalam dirinya. Mengapa Mba Lisa jadi begitu menarik, padahal ia jauh lebih tua dariku? Mengapa Putri yg seusia denganya itu tdk semenarik Mba Lisa, padahal Putri jg cantik. Ricky menarik nafas dalam-dalam, lalu kepalanya terangkat lagi, memandang lagi ke dalam ruang latihan.
Cuma
kali ini ia tdk melihat Mba Lisa di sana. Dipanjang-panjangkannya lehernya, mencari-cari,
kemana gerangan wanita itu. Ricky bahkan memiringkan tubuhnya, sampai hampir
rebah ke kiri, untuk melihat sudut terjauh yg masih terjangkau pandangan. Mba Lisa
tdk ada, sementara murid-muridnya masih bergerak sesuai irama musik dari
tape-recorder. Kemana dia?
Hampir copot rasanya jantung Ricky, ketika tiba-tiba Mba Lisa muncul dari balik tembok rumah di sebelah ruang latihan. Rupanya, ada gang yg menghubungkan rumah itu dgn ruang latihan, yg tdk terlihat dari tempat Ricky duduk. Rupanya Mba Lisa meninggalkan murid-muridnya untuk masuk ke rumah itu. Dan kini ia berjalan kembali ke ruang latihan, tetapi tdk melalui gang, melainkan lewat pintu depan. Lewat di depan Ricky, melenggang santai dgn kainnya yg ketat membungkus tubuhnya yg indah.
“Hayo.., tunggu di dalam, Dik!” ucap Mba Lisa menghentikan langkah sebelum masuk.
Senyum yg memikat Ricky terhias di bibirnya. Ricky menelan ludah, tak bisa menyahut, dan cuma bisa meringis lagi.b Betul-betul seperti kera yg sedang kepedasan.
Hampir copot rasanya jantung Ricky, ketika tiba-tiba Mba Lisa muncul dari balik tembok rumah di sebelah ruang latihan. Rupanya, ada gang yg menghubungkan rumah itu dgn ruang latihan, yg tdk terlihat dari tempat Ricky duduk. Rupanya Mba Lisa meninggalkan murid-muridnya untuk masuk ke rumah itu. Dan kini ia berjalan kembali ke ruang latihan, tetapi tdk melalui gang, melainkan lewat pintu depan. Lewat di depan Ricky, melenggang santai dgn kainnya yg ketat membungkus tubuhnya yg indah.
“Hayo.., tunggu di dalam, Dik!” ucap Mba Lisa menghentikan langkah sebelum masuk.
Senyum yg memikat Ricky terhias di bibirnya. Ricky menelan ludah, tak bisa menyahut, dan cuma bisa meringis lagi.b Betul-betul seperti kera yg sedang kepedasan.
“Hayo
…,” ajak Mba Lisa lagi, lembut tetapi tegas.
Ricky bangkit, dan dgn ragu-ragu melangkah mendekat. Mba Lisa tertawa kecil, lalu melanjutkan langkah mendahului masuk. Pelan-pelan Ricky menyusulnya. Ketika ia tiba di ruang latihan, Mba Lisa sdh berputar-putar lagi memberi contoh gerakan tarinya. Ricky mencari-cari bangku untuk duduk, tetapi tak ada satu pun di sana. Ia lalu berdiri saja, menyender di sebuah tiang yg cukup besar.
Lisa melirik, melihat remaja itu berdiri kikuk. Kasihan, pikirnya. Tetapi biarlah begitu, kalau ia memang tertarik pada tarianku -atau tubuhku!- biar saja ia berdiri sampai pegal. Tersenyum Lisa mendengar kata hatinya yg terakhir ini. Ya, biar dia berdiri sampai pegal!
Selama 20 menit, Ricky berdiri saja melihat adiknya latihan menari. Rini terlihat senang melihat kakaknya sdh hadir. Berkali-kali Rini kelihatan ketinggalan langkah, karena ia tersenyum-senyum kepada kakaknya. Ricky mengernyitkan dahinya, meletakkan telunjuk di bibirnya, memperingatkan Rini agar tetap serius. Lisa tersenyum melihat tingkah keduanya.
Ricky bangkit, dan dgn ragu-ragu melangkah mendekat. Mba Lisa tertawa kecil, lalu melanjutkan langkah mendahului masuk. Pelan-pelan Ricky menyusulnya. Ketika ia tiba di ruang latihan, Mba Lisa sdh berputar-putar lagi memberi contoh gerakan tarinya. Ricky mencari-cari bangku untuk duduk, tetapi tak ada satu pun di sana. Ia lalu berdiri saja, menyender di sebuah tiang yg cukup besar.
Lisa melirik, melihat remaja itu berdiri kikuk. Kasihan, pikirnya. Tetapi biarlah begitu, kalau ia memang tertarik pada tarianku -atau tubuhku!- biar saja ia berdiri sampai pegal. Tersenyum Lisa mendengar kata hatinya yg terakhir ini. Ya, biar dia berdiri sampai pegal!
Selama 20 menit, Ricky berdiri saja melihat adiknya latihan menari. Rini terlihat senang melihat kakaknya sdh hadir. Berkali-kali Rini kelihatan ketinggalan langkah, karena ia tersenyum-senyum kepada kakaknya. Ricky mengernyitkan dahinya, meletakkan telunjuk di bibirnya, memperingatkan Rini agar tetap serius. Lisa tersenyum melihat tingkah keduanya.
Ketika
akhirnya latihan selesai, Ricky bernafas lega. Bukan saja karena ia sdh pegal
berdiri, tetapi jg karena sebenarnya ia agak tersiksa. Betapa tdk? Sejak tadi
ia terpesona oleh gerak Mba Lisa, tetapi ia harus menyembunyikan perasaan itu.
Betapa sulit!
Lisa berjalan mendekati Ricky sambil melepas stagen. Ricky berdiri kikuk ketika akhirnya Lisa berdiri di hadapannya, cukup dekat untuk mencium bau keringatnya yg ternyata tdk mengganggu Ricky.
“Suka menari?” tanya Lisa. Matanya memandang lekat remaja di hadapannya. Senyumnya mengembang halus. Ricky menelan ludah lagi.
Lisa berjalan mendekati Ricky sambil melepas stagen. Ricky berdiri kikuk ketika akhirnya Lisa berdiri di hadapannya, cukup dekat untuk mencium bau keringatnya yg ternyata tdk mengganggu Ricky.
“Suka menari?” tanya Lisa. Matanya memandang lekat remaja di hadapannya. Senyumnya mengembang halus. Ricky menelan ludah lagi.
Ricky
menggeleng kuat. Lisa tertawa kecil,
“Saya pikir kamu suka. Sebab, kamu betah menunggu adikmu latihan.”
“Saya …., sebetulnya saya suka ..,” ucap Ricky tergagap.
“Oh, ya???” Lisa membelalakan matanya yg indah, senyumnya mengembang lagi. Ricky menelan ludah lagi.
“Seberapa suka, sebetulnya …,” tanya Lisa lagi, ringan.
“Mmmm … saya suka menonton saja.” jawab Ricky sekenanya.
“Menonton anak-anak kecil menari?” tanya Lisa. Wah! Ricky tertunduk, mukanya tiba-tiba terasa panas. Sial!
Lisa tergelak melihat Ricky tertunduk malu. Kini ia tahu apa yg sesungguhnya ditonton laki-laki belia ini! Ia ke sini untuk menontonku, melihat tubuhku! Dan kesimpulan ini membuat dirinya senang. Bagi Lisa, menyenangkan penonton adalah tujuan utamanya menari, bukan?
“Siapa nama kamu?” tanya Lisa lembut sambil melepas ikat rambutnya. Ricky mengangkat muka, melihat kedua tangan Lisa terangkat, dan samar-sama kedua ketiaknya yg mulus terlihat dari lengan bajunya yg agak tersingsing.
“Ricky..,” terdengar jawaban pelan.
Lisa tersenyum lagi, sengaja berlama-lama membuka ikat rambutnya, membiarkan remaja itu melihat apa yg ingin dilihatnya. Nakal sekali kamu, Lisa! sebuah suara terdengar di kalbunya.
Siksaan bagi Ricky baru berhenti ketika Rini menarik tangannya pulang. Sambil menggumamkan selamat sore, ia berbalik dan menggandeng adiknya ke tempat sepeda.
“Datang lagi, yaaa!” seru Lisa ketika Ricky sedang bersiap mengayuh.
“Saya pikir kamu suka. Sebab, kamu betah menunggu adikmu latihan.”
“Saya …., sebetulnya saya suka ..,” ucap Ricky tergagap.
“Oh, ya???” Lisa membelalakan matanya yg indah, senyumnya mengembang lagi. Ricky menelan ludah lagi.
“Seberapa suka, sebetulnya …,” tanya Lisa lagi, ringan.
“Mmmm … saya suka menonton saja.” jawab Ricky sekenanya.
“Menonton anak-anak kecil menari?” tanya Lisa. Wah! Ricky tertunduk, mukanya tiba-tiba terasa panas. Sial!
Lisa tergelak melihat Ricky tertunduk malu. Kini ia tahu apa yg sesungguhnya ditonton laki-laki belia ini! Ia ke sini untuk menontonku, melihat tubuhku! Dan kesimpulan ini membuat dirinya senang. Bagi Lisa, menyenangkan penonton adalah tujuan utamanya menari, bukan?
“Siapa nama kamu?” tanya Lisa lembut sambil melepas ikat rambutnya. Ricky mengangkat muka, melihat kedua tangan Lisa terangkat, dan samar-sama kedua ketiaknya yg mulus terlihat dari lengan bajunya yg agak tersingsing.
“Ricky..,” terdengar jawaban pelan.
Lisa tersenyum lagi, sengaja berlama-lama membuka ikat rambutnya, membiarkan remaja itu melihat apa yg ingin dilihatnya. Nakal sekali kamu, Lisa! sebuah suara terdengar di kalbunya.
Siksaan bagi Ricky baru berhenti ketika Rini menarik tangannya pulang. Sambil menggumamkan selamat sore, ia berbalik dan menggandeng adiknya ke tempat sepeda.
“Datang lagi, yaaa!” seru Lisa ketika Ricky sedang bersiap mengayuh.
Duh!
Ricky jadi serba salah. Apakah ia harus menjawab seruan itu? Ah, sdhlah!
sergahnya dalam hati dan cepat-cepat mendayung. Dari kejauhan Lisa memandang
kakak-beradik itu menghilang di balik tikungan. Senyum manis masih di bibirnya.
Demikianlah seterusnya, Ricky semakin terpikat oleh wanita yg pandai menari dan pandai menggoda itu. Sekali waktu ia mencoba menghindar, meminta kepada ayah untuk tdk usah menjemput Rini dgn alasan harus latihan bola kaki. Selama empat kali latihan, ia tdk mampir ke sanggar, dan tdk berjumpa Mba Lisa. Dan itu artinya, sdh sebulan ia tdk melihat tubuh molek itu melenggak-lenggok. Lama jg, ya?
Sampai suatu hari, ada pertunjukkan dari di balai kota, diselingi permainan band sebuah kelompok amatir yg cukup populer di kota kecil ini. Ricky datang bersama teman-temannya, tentu hanya untuk menonton band. Acara tari-tarian di sore hari dilewatkan saja. Rombongan Ricky baru tiba di atas pukul 8, saat band mulai naik panggung.
Di situlah Ricky berjumpa lagi dgn Mba Lisa. Saat band memainkan lagu ketiga, Ricky pergi ke belakang panggung untuk buang air kecil, karena di sana lah terdapat toilet untuk umum. Saat kembali ke tempat duduknya, sewaktu meliwati pintu yg menuju tempat pemain berganti pakaian, Ricky melihat Mba Lisa duduk di sebuah bangku. Langkahnya terhenti, lalu ia menyelinap ke balik tembok yg agak gelap. Dari situ, ia bisa melihat Mba Lisa, tetapi wanita itu tdk bisa melihatnya.
Demikianlah seterusnya, Ricky semakin terpikat oleh wanita yg pandai menari dan pandai menggoda itu. Sekali waktu ia mencoba menghindar, meminta kepada ayah untuk tdk usah menjemput Rini dgn alasan harus latihan bola kaki. Selama empat kali latihan, ia tdk mampir ke sanggar, dan tdk berjumpa Mba Lisa. Dan itu artinya, sdh sebulan ia tdk melihat tubuh molek itu melenggak-lenggok. Lama jg, ya?
Sampai suatu hari, ada pertunjukkan dari di balai kota, diselingi permainan band sebuah kelompok amatir yg cukup populer di kota kecil ini. Ricky datang bersama teman-temannya, tentu hanya untuk menonton band. Acara tari-tarian di sore hari dilewatkan saja. Rombongan Ricky baru tiba di atas pukul 8, saat band mulai naik panggung.
Di situlah Ricky berjumpa lagi dgn Mba Lisa. Saat band memainkan lagu ketiga, Ricky pergi ke belakang panggung untuk buang air kecil, karena di sana lah terdapat toilet untuk umum. Saat kembali ke tempat duduknya, sewaktu meliwati pintu yg menuju tempat pemain berganti pakaian, Ricky melihat Mba Lisa duduk di sebuah bangku. Langkahnya terhenti, lalu ia menyelinap ke balik tembok yg agak gelap. Dari situ, ia bisa melihat Mba Lisa, tetapi wanita itu tdk bisa melihatnya.
Lisa
memakai jeans ketat dan sebuah kaos agak longgar berwarna putih. Rambutnya
digelung ke atas, memperlihatkan lehernya yg jenjang dan agak basah oleh
keringat. Ia tampak letih, dan sedang menikmati sebotol minuman dingin.
Bibirnya menjepit sebuah sedotan, dan matanya tampak melamun. Bagi Ricky, Mba Lisa
tampak menawan malam itu. Ia kemudian melihat wanita itu bangkit menuju ke
sebuah kamar di belakang panggung. Ricky mengikuti gerak-geriknya dgn seksama,
aman dalam lindungan bayang-bayang yg gelap. Tak lama kemudian, tampak Mba Lisa
membuka sebuah pintu, dan di dalam terlihat terang berderang tetapi sepi.
Berjingkat, Ricky berpindah tempat sehingga bisa memandang lebih bebas ke dalam
ruangan itu.
Lisa menutup pintu ruang, tetapi rupanya kurang begitu kuat mendorong, sehingga masih tersisa celah untuk melihat ke dalam. Dgn jantung berdegup kencang, Ricky melihat ke kiri dan kanan. Tdk ada siapa-siapa. Semua orang berada di depan panggung asyik menonton band. Pelan-pelan ia melangkah mendekati ruang yg ternyata adalah ruang ganti pakaian bagi para artis.
Ia tiba di depan pintu ruang itu, dan dari celah yg tersisa, ia bisa melihat ke dalam. Ricky menelan ludah, dan menahan kagetnya. Di dalam, Mba Lisa tampak sedang membuka kaosnya, membelakangi Ricky. Tubuhnya yg putih dan padat terlihat jelas, apalagi kemudian ia berputar menghadap sebuah cermin yg pantulannya terlihat dari tempat Ricky berdiri. Ia bisa melihat dua payudara yg indah, terbungkus beha yg tampak terlalu kecil. Lutut Ricky terasa bergetar.
Lisa menutup pintu ruang, tetapi rupanya kurang begitu kuat mendorong, sehingga masih tersisa celah untuk melihat ke dalam. Dgn jantung berdegup kencang, Ricky melihat ke kiri dan kanan. Tdk ada siapa-siapa. Semua orang berada di depan panggung asyik menonton band. Pelan-pelan ia melangkah mendekati ruang yg ternyata adalah ruang ganti pakaian bagi para artis.
Ia tiba di depan pintu ruang itu, dan dari celah yg tersisa, ia bisa melihat ke dalam. Ricky menelan ludah, dan menahan kagetnya. Di dalam, Mba Lisa tampak sedang membuka kaosnya, membelakangi Ricky. Tubuhnya yg putih dan padat terlihat jelas, apalagi kemudian ia berputar menghadap sebuah cermin yg pantulannya terlihat dari tempat Ricky berdiri. Ia bisa melihat dua payudara yg indah, terbungkus beha yg tampak terlalu kecil. Lutut Ricky terasa bergetar.
Kemudian
tampak Mba Lisa melepas celana jeansnya. Ricky merasa kakinya terpaku di tanah.
Dgn kuatir ia melihat ke sekeliling, takut kepergok. Tetapi suasana di sekitar
ruang ganti itu tetap sepi. Maka ia tetap mengintip ke dalam. Jeans sdh dibuka
dan tergeletak di lantai. Mba Lisa hanya bercelana dalam dan berbeha, dan
tubuhnya indah bukan main. Putih mulus, padat berisi. Ricky berkali-kali
menelan ludah. Pemandangan indah itu berlangsung tak lebih dari 10 menit,
karena kini Mba Lisa sdh berganti rok panjang dan baju hem coklat. Tetapi bagi Ricky,
rasanya lama sekali. Cepat-cepat ia berbalik dan tergopoh kembali ke depan
panggung.
Lisa mendengar suara langkah orang. Terkejut, ia segera lari ke pintu dan melihat pintu belum tertutup sepenuhnya. Celaka, pikirnya, seseorang tadi mengintipku berganti pakaian. Cepat-cepat dikuaknya pintu, dilongokkannya kepala, bersiap berteriak jika memergoki si pengintip. Tetapi di luar sepi, tdk ada siapa-siapa. Ah, mungkin cuma perasaanku saja, pikir Lisa.
Sementara itu, di depan panggung Ricky gelisah mengenang pengalamannya. Lagu-lagu yg dibawakan band di depannya terasa hambar. Teman-temannya terlihat girang, tetapi ia sendiri kurang bergairah. Dgn alasan mengantuk, ia pulang lebih dulu dari teman-temannya yg keheranan.
“Ada apa dgnmu, Ricky?” tanya sobatnya, Kokok.
Ia tdk menjawab, dan hanya menggumam sambil melangkah meninggalkan arena pertunjukkan.
“Dasar kutu buku …,” gerutu Ricky, temannya yg lain. Ricky tak peduli, dan terus melangkah menembus malam.
Dan malam itu, Ricky menikmati hayalnya di atas ranjang, meremas-remas kelaki-lakiannya yg menegang sambil membayangkan tubuh mulus Mba Lisa. Tak berapa lama, ia mengerang tertahan, merasakan cairan hangat memenuhi telapak tangannya. Dgn tissue yg sdh disiapkannya, ia melap tangannnya, lalu tidur nyenyak sambil berharap bertemu Mba Lisa di alam mimpi. Namun mimpinya ternyata kosong belaka, tentu karena ia sebetulnya sdh sangat mengantuk malam itu
Lisa mendengar suara langkah orang. Terkejut, ia segera lari ke pintu dan melihat pintu belum tertutup sepenuhnya. Celaka, pikirnya, seseorang tadi mengintipku berganti pakaian. Cepat-cepat dikuaknya pintu, dilongokkannya kepala, bersiap berteriak jika memergoki si pengintip. Tetapi di luar sepi, tdk ada siapa-siapa. Ah, mungkin cuma perasaanku saja, pikir Lisa.
Sementara itu, di depan panggung Ricky gelisah mengenang pengalamannya. Lagu-lagu yg dibawakan band di depannya terasa hambar. Teman-temannya terlihat girang, tetapi ia sendiri kurang bergairah. Dgn alasan mengantuk, ia pulang lebih dulu dari teman-temannya yg keheranan.
“Ada apa dgnmu, Ricky?” tanya sobatnya, Kokok.
Ia tdk menjawab, dan hanya menggumam sambil melangkah meninggalkan arena pertunjukkan.
“Dasar kutu buku …,” gerutu Ricky, temannya yg lain. Ricky tak peduli, dan terus melangkah menembus malam.
Dan malam itu, Ricky menikmati hayalnya di atas ranjang, meremas-remas kelaki-lakiannya yg menegang sambil membayangkan tubuh mulus Mba Lisa. Tak berapa lama, ia mengerang tertahan, merasakan cairan hangat memenuhi telapak tangannya. Dgn tissue yg sdh disiapkannya, ia melap tangannnya, lalu tidur nyenyak sambil berharap bertemu Mba Lisa di alam mimpi. Namun mimpinya ternyata kosong belaka, tentu karena ia sebetulnya sdh sangat mengantuk malam itu

Halo Bosku ^^
ReplyDeleteSegera Daftarkan ID di www. SmsQQ .com
Ada 4 Permainan Dalam 1 ID
Bandar Q,Poker,Domino QQ,Bandar Poker
www. SmsQQ .com Juga Menyediakan Promo Menarik
Bonus Turn Over Terbesar
Bonus Refferal Seumur Hidup
Minimal deposit 10rb
BBM :2AD05265
WA:+855968010699
Skype:smsqqcom@gmail.com
Ditunggu Kehadirannya Bosku di www,SmsQQ,com